Plt Wali Kota Blitar, Santoso.(Foto :  Team BlitarTIMES)

Plt Wali Kota Blitar, Santoso.(Foto : Team BlitarTIMES)


Editor

Heryanto


Menjadi salah satu kejahatan luar biasa (extraordinary crime) secara nasional, masifnya kasus peredaran Narkotika (Narkoba, Psikotropika dan Zat Adiktif) juga menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar untuk mencegah peredaran narkotika.

Kali ini, Pemkot Blitar akan mengawasi ketat setiap rumah kos di Kota Blitar. 

Rumah kos oleh Pemkot Blitar dipandang sebagai tempat yang sangat strategis terhadap potensi transaksi peredaran narkotika.

"Di Kota Blitar ini sedang marak-maraknya usaha tempat kos-kosan. Jadi ini patut diwaspadai. Jangan sampai lengah sehingga mereka lolos masuk ke kos-kosan," jelas Plt Wali KotaBlitar, Santoso, Selasa (14/05/2019).

Dia menguraikan, terkini jumlah rumah kos yang semakin berkembang itu sangat rentan menjadi sasaran peredaran narkoba. 

Tidak menutup kemungkinan para pengedar narkoba ini masuk ke sejumlah rumah kos.

Terdapat sekitar 300 rumah kos yang berdiri di Kota Blitar. Rumah kos itu tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Sukorejo, Kecamatan Kepanjenkidul dan Kecamatan Sananwetan. 

Hampir setiap tahun, jumlahnya semakin bertambah.

"Selain itu, pembangunan hotel juga semakin berkembang. Makanya jangan sampai mereka memanfaatkan kelengahan dan kurang kewaspadaan kita hingga mudah bertransaksi," ujarnya.  

Demi memerangi narkotika di Bumi Bung Karno, Pemkot Blitar menggaet Badan Narkotika Nasional (BNN) daerah, dengan jauh hari sudah berupaya mendeteksi dan mencegah peredaran narkoba masuk di berbagai lini di Kota Blitar. Misalnya, melalui jalur pendidikan dan lingkup Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Saat ini, pemkot sedang berupaya menembus jalur para pengusaha atau wiraswasta. 

Terutama pengusaha tempat kos-kosan yang rentan jadi sasaran peredaran maupun penyelendupan narkoba.

"Jangan sampai cara penyelundupan dan peredaran narkoba di kota besar berkembang di Blitar," tutur pria yang juga Ketua BNK Kota Blitar ini.(*)


End of content

No more pages to load