Tri Widyani, kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Malang. (foto Nurlayla Ratri/Malang Times)
Tri Widyani, kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Malang. (foto Nurlayla Ratri/Malang Times)

Meski digadang-gadang sebagai soko guru ekonomi kerakyatan, keberadaan koperasi masih memprihatinkan. Misalnya di Kota Malang, jumlah koperasi yang kondisinya tidak sehat masih mendominasi. Dari total 700 lembaga yang terdaftar oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop) Kota Malang, baru sekitar 14 persen atau 100-an koperasi yang berstatus sehat.

Kepala Dinkop dan Usaha Mikro Kota Malang Tri Widyani Pangestuti mengungkapkan bahwa pihaknya berupaya melakukan pembinaan intensif terhadap koperasi-koperasi yang masih eksis. Harapannya, koperasi bisa kembali sehat dan dapat menggerakkan perekonomian masyarakat.

 "Kalau saat ini di Kota Malang dari 700 koperasi yang terdaftar, baru sekitar 100 koperasi yang sehat. Saya ingin tahun in,  50 persen koperasi di Kota Malang sehat dan produktif," ucap Yani, sapaan akrabnya.

Upaya pembinaan tersebut, misalnya menggelar seminar dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pengelola koperasi simpan pinjam (KSP) dan usaha simpan pinjam (USP) di Kota Malang. "April ini kami melaksanakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (PK2UKM)) melalui pelatihan peningkatan kompetensi pengelola KSP/USP sesuai SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Pengelola sebagai pemegang kunci utama harus mendapatkan pembekalan bagaimana mengelola koperasi dengan baik," ujarnya.

Yani menguraikan, beberapa masalah klasik yang dihadapi koperasi di antaranya tentang tata kelola simpan pinjam dan kepatuhan anggota. Terutama, terkait pengelolaan koperasi yang baik sesuai dengan SKKNI. "Banyak yang belum tahu cara mengelola sebuah koperasi dengan baik. Mulai dari prinsip manajemen koperasi, peran strategis koperasi, motivasi, kontrol pinjaman dan pengembalian, pengendalian internal, pengamanan aset dan infrastuktur, analisis program, penilaian koperasi, beberapa hal lainnya," urainya.

"Jangan sampai, koperasi-koperasi yang sudah terbentuk ini mati di tengah jalan karena salah asuh atau kesalahan pengelolaan. Contohnya, tekor karena banyak yang pinjam tapi sedikit yang menyimpan atau pinjamannya tidak kembali. Ini kan butuh trik khusus, kami akan memberikan bimbingan langsung juga," sambung dia. 

Yani berharap,  kegiatan seperti ini dapat terus memajukan koperasi yang ada di Kota Malang. Dengan koperasi yang sehat, maka ke depan akan lebih membawa banyak manfaat bagi Kota Malang dan masyarakat secara keseluruhan.