Didik Gatot Subroto caleg PDI-Perjuangan yang juga sebagai Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Malang (foto: Nana/MalangTIMES)

Didik Gatot Subroto caleg PDI-Perjuangan yang juga sebagai Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Malang (foto: Nana/MalangTIMES)



Tidak bisa dipungkiri, Pemilu 2019 yang begitu hiruk pikuk sepanjang 7-8 bulan, berjalan dengan aman, damai dan lancar. Keberhasilan tersebut, tentunya patut diapresiasi. Dengan beberapa catatan, terkait Pemilu 2019 yang memakan korban jiwa para petugas KPPS di berbagai daerah.

Tercatat, jumlah korban jiwa dari petugas KPPS terus bertambah. Data dari KPU telah mencapai 119 petugas mereka yang meninggal dunia.
Catatan Pemilu 2019 ini pun mulai ramai diperbincangkan di tingkat nasional. Baik dari pemerintah pusat, penyelenggara Pemilu 2019 sampai di tingkat daerah. Seperti yang disampaikan oleh Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto.

Politisi PDI-Perjuangan ini menyampaikan, pemilu serentak yang pertama kali dilakukan ini, berbahaya bagi para petugas di lapangan. "Dan hal ini terbukti dengan cukup banyaknya petugas KPPS yang meninggal dunia dikarenakan beban kerja yang sangat berat. Serta tekanan yang juga tinggi," kata Didik kepada MalangTIMES, Rabu (24/04/2019).
Didik mencontohkan, beban tugas yang diemban petugas di wilayah Dapil VI dimana dirinya kembali maju menjadi caleg. Dapil VI yang meliputi wilayah Lawang, Pakis dan Singosari merupakan wilayah luas dengan pemilih terbanyak, yaitu 401.347. 

"Untuk rekapitulasi di tingkat PPK saja satu kelurahan baru bisa selesai selama 3 hari. Itu yang di wilayah Singosari saja. Jadi memang beban petugas sangat berat sekali karena harus menghitung lima lembar surat suara di tahun ini," urainya.

Dengan sistem menggabungkan lima pemilihan, yakni presiden, DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota secara serentak, telah membuat kontestan pun kewalahan, khususnya bagi DPD, DPR dan DPRD. 

"Kita ketahui penggabungan pilihan ini memang memiliki konsekuensi. Di tingkat pileg, gaungnya kalah dengan pilpres. Di tataran petugas pemilu pun akhirnya memang seperti kita lihat saat ini. Perlu adanya evaluasi ke depan, tanpa mengurangi kesuksesan jalannya Pemilu 2019 ini," terang Didik.

Di tataran KPU Kabupaten pun, nyaris sama dengan di desa maupun kecamatan. Besarnya antusias masyarakat untuk segera melihat hasil pemilu, serta begitu besarnya jumlah surat suara telah membuat server KPU Kabupaten Malang down.

Hal ini yang membuat masyarakat tidak bisa mengikuti perkembangan hasil suara yang telah masuk ke KPU Kabupaten Malang.
Dari penelusuran MalangTIMES, sejak kemarin (24/04) sampai saat berita ditulis, server KPU tidak bisa dibuka. "Bandwitdh Limit Exceeded". Hal ini juga dibenarkan oleh petugas KPU yang mengatakan sejak Minggu lalu memang server mengalami down.

"Down servernya. Kita masih fokus proses scan C1 yang masuk," ujarnya.
Seperti diketahui, Kabupaten Malang dibagi menjadi 7 dapil dengan jumlah pemilih tetap 1.996.857. Besarnya jumlah pemilih tetap dalam pemilu 2019 di Kabupaten Malang inilah yang membuat proses perhitungan suara memakan waktu lama. Serta menyebabkan berbagai efek lanjutan dengan begitu panjangnya proses di tingkat penghitungan suara. 


End of content

No more pages to load