ilustrasi jenazah korban pembunuhan saat tiba di Rumah Sakit Saiful Anwar, Kecamatan Pakis (Foto : Dokumen MalangTIMES)

ilustrasi jenazah korban pembunuhan saat tiba di Rumah Sakit Saiful Anwar, Kecamatan Pakis (Foto : Dokumen MalangTIMES)


Editor

A Yahya


Pelaku pembunuhan terhadap korban  Supardi warga Dusun Gandon Barat, Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung masih misterius. Hingga empat hari setelah penemuan mayat yang menggemparkan warga sekitar Dusun Tegal Pasangan, Desa Pakiskembar, Kecamatan Pakis itu, polisi masih belum menemukan pelaku. Begitu juga dengan motif pembunuhan yang dilakukan terhadap korban. 

Untuk diketahui, Supardi warga Dusun Gandon Barat, Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung ditemukan tewas mengenaskan di area persawahan yang berlokasi di Dusun Tegal Pasangan, Desa Pakis Kembar, Kecamatan Pakis, pada Jumat (12/4/2019) pagi.

Saat pertama kali ditemukan, pria yang diketahui berusia 58 tahun itu, nampak mengenakan pakaian lengan panjang berwarna hitam kusam. Selain itu, celana panjang yang dikenakan korban saat pertama kali ditemukan saksi, juga dalam kondisi melorot ke bawah hingga (maaf) celana dalam yang dikenakan korban terlihat.

Ketika pertama kali diketahui warga, posisi tubuh pria yang akrab disapa Pardi ini, dalam posisi miring ke sebelah kanan dengan luka parah di bagian pipi sebelah kiri. Hal inilah yang diduga mengakibatkan mayat tewas dengan keadaan  berlumuran darah. Setelah sempat berstatus Mr. X, identitas mayat akhirnya berhasil diungkap tim Inafis Polres Malang melalui sidik jari.

Sementara itu, dari hasil olah TKP (Tempat Kejadian Perkara), polisi akhirnya menyimpulkan jika penyebab kematian korban diduga karena dibunuh. Namun terkait siapa pelaku dan motif dibalik pembunuhan, petugas kepolisian masih belum merinci secara pasti. “Motif dan siapa pelakunya sementara belum terungkap. Kami masih fokus melakukan pengamanan Pemilu, nanti saja setelah Pilpres kami kabari,” kata Kapolsek Pakis AKP Hartono, Selasa (16/4/2019).

Di sisi lain, informasi yang dihimpun MalangTIMES.com menyebutkan jika dari yang semula motif pembunuhan adalah perampokan, lantaran mesin pembajak sawah milik korban yang kesehariannya bekerja sebagai petani dan tukang kebun ini, sempat dinyatakan hilang oleh polisi.

Namun baru-baru ini, petugas menemukan fakta baru jika diduga kuat motif di balik pembunuhan adalah dendam. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda. Dimana, sementara ini pihaknya menduga jika motif di balik pembunuhan adalah dendam pribadi. 

“Semula kami memang menduga jika korban tewas karena perampokan, sebab mesin bajak sawah miliknya sempat dinyatakan hilang. Namun dari hasil pendalaman kami, petugas berhasil menemukan mesin pembajak sawah milik korban,” kata Adrian, Selasa (16/4/2019).

Dugaan pembunuhan bermotif dendam ini, dikuatkan dengan keterangan berbagai saksi yang sudah dihimpun oleh anggota korps berseragam coklat tersebut. “Sejauh ini sudah ada lima orang saksi yang diperiksa. Para saksi yang sudah dimintai keterangan, ada yang menuturkan jika pihaknya sempat melihat korban bertengkar dengan dua orang temannya. Kemungkinan besar kematian korban karena kasus pengeroyokan," terang Adrian.

Perwira polisi dengan tiga balok dibahu ini menambahkan, jika insiden pengeroyokan tersebut menjurus kepada teman sepekerjaan dengan korban. Kendati demikian, polisi lagi-lagi masih melakukan pendalaman. Sebab saat insiden pembunuhan terjadi, tidak ada seorang pun yang melihat peristiwa tersebut.

Sedangkan dari hasil autopsi jenasah korban di kamar mayat RSSA (Rumah Sakit Saiful Anwar) Malang, petugas menyimpulkan jika kematian korban murni karena luka penganiayaan yang disebabkan karena benda tajam dan benda tumpul di bagian wajah dan pipi sebelah kiri. “Luka yang dialami korban sangat serius, itulah yang mengakibatkan korban akhirnya meninggal dunia,” pungkasnya.


End of content

No more pages to load