Muhammad Faris Abdul Aziz dari Bawaslu Jatim menyerahkan Kartu Identitas Pemantau kepada Felik Sad Windu selaku koordinator pemantau dari Ma Chung. (Foto: Humas)

Muhammad Faris Abdul Aziz dari Bawaslu Jatim menyerahkan Kartu Identitas Pemantau kepada Felik Sad Windu selaku koordinator pemantau dari Ma Chung. (Foto: Humas)



Universitas Ma Chung adalah salah satu dari tiga puluh lembaga pemantauan yang mendapatkan akreditasi sebagai lembaga pemantau pemilu. Hal ini sesuai dengan surat edaran dari Bawaslu Jawa Timur yang dirilis pada tanggal 12 April 2019.

Muhammad Faris Abdul Aziz selaku Staf Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Kota Malang menyatakan bahwa Ma Chung adalah satu-satunya perguruan tinggi yang mengirimkan banyak personel dalam pemantauan. “Di kota Malang ada 62 perguruan tinggi. Ma Chung adalah satu-satunya perguruan tinggi yang mengirimkan banyak personel dalam pemantauan,” ujar Faris.

Ke depannya, Bawaslu berharap akan ada lebih banyak lembaga pendidikan yang mau terlibat langsung di dalam pesta demokrasi. Menurutnya, negara membutuhkan banyak partisipasi warga negaranya untuk terlibat.

Undang-undang sendiri sudah memfasilitasi kemungkinan warga masyarakat untuk terlibat banyak dalam pemantauan. Dan Bawaslu terbuka untuk membantu warga masyarakat yang ingin terlibat sebagai pemantau.

Untuk diketahui, mulai awal Januari Bawaslu Jatim sudah merilis pengumuman untuk pendaftaran pemantau partisipatif. Baik untuk warga masyarakat, kelompok sosial, lembaga sosial, maupun lembaga pendidikan. "Di lapangan pun kami sosialisasi langsung kepada masyarakat dan menurut kami hasilnya belum maksimal. Hanya beberapa lembaga saja yang mau terlibat," ungkap Faris.

Universitas Ma Chung sendiri menurunkan sebanyak 365 mahasiswanya untuk terlibat di dalam pemantauan. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswi Ma Chung dari berbagai angkatan yang memiliki kepedulian besar terhadap proses demokrasi.

“Sudah hampir dua bulan yang lalu, kami dari kemahasiswaan membuka pengumuman perekrutan mahasiswa untuk menjadi pemantau pemilu. Mahasiswa kami motivasi supaya ikut pemantauan melalui mata kuliah umum Pancasila dan Kewarganegaraan. Alhamdulilah mereka banyak yang termotivasi dan mendaftar. Tidak ada paksaan dari kami," papar Felik Sad Windu Wisnu Broto selaku koordinator pemantau.

Salah satu peserta pemantau dari universitas Ma Chung, Fransiscus Danny Aguswahyudi mengatakan bahwa kegiatan ini sudah dua kali ia ikuti, pertama saat pilkada tahun lalu dan kedua sekarang ini. “Saya dua kali menjadi pemantau. Pertama tahun lalu saat pilkada dan kedua sekarang ini. Saya senang menjadi pemantau karena bisa mengalami sendiri, bisa menyaksikan sendiri proses demokrasi yang menurut saya sangat baik. Sebelum menjadi pemantau di TPS kami mendapatkan bimbingan teknis dari Bawaslu. Pengetahuan ini yang menurut saya sangat berharga,” ujar Danny.

Nantinya, ada dua wilayah yang akan menjadi pusat pemantauan dari universitas Ma Chung, yaitu kecamatan Klojen dan Kecamatan Sukun. 


End of content

No more pages to load