Nampak para peserta Malang Pillow Festival 2019 begitu antusia menghias bantal (foto: Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Nampak para peserta Malang Pillow Festival 2019 begitu antusia menghias bantal (foto: Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

Dalam rangkaian Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Fair 2019 di Kota Malang, terdapat festival yang cukup unik. Festival tersebut yakni Malang  Pillow Festival 2019 atau festival bantal yang digelar di gedung Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM) (3/4/2019).

Dalam gelaran tersebut, terdapat berbagai macam perlombaan menghias, mulai dari membatik, merajut dan diikuti oleh sekitar 200 an peserta. Terlihat para peserta yang sebagian besar ibu rumah tangga nampak antusias mengikuti perlombaan tersebut.

Satu-persatu peserta memamerkan bantalnya di atas panggung layaknya model yang berlenggak-lenggok memamerkan baju, namun mereka ini memamerkan bantal hasil karyanya.

Kepala Dinas Perindustrian (Disperin) Kota Malang, Subkhan mengatakan, dengan festival ini, mencoba menjadikan sebuah bantal yang dianggap selama ini sepele, hanya untuk tidur, menjadi lebih berarti. 

"Namun di sini kan kita bisa kreasikan dengan tangan-tangan kreatif dengan model yang menarik, sehingga punya nilai lebih dan mempunyai harga jual yang tinggi dengan kreasi-kreasi itu. Selain untuk itu, tentu juga akan membuat kita senang untuk melihatnya, bisa untuk hiasan. Sofa juga saat ini kan juga selalu ada hiasan bantal," jelasnya (3/4)2019).

Di kegiatan Malang Pillow Festival 2019, juga terdapat kursus mulai dari merajut, membatik dengan teknik dari Jepang, painting, melukis. Sehingga, mereka yang di sana juga bisa belajar.

"Dalam festival ini bukan hanya sekedar fungsi, tapi menciptakan sebuah art, membuat nilai seninya. Disitulah yang mahal. Maka dari itu, dinas masuk untuk mengangkat potensi itu, makanya ini kita masukan item Dekranasda," bebernya.

Sementara itu, lebih lanjut dijelaskan Subkhan, untuk perajin di Kota Malang, perajin bantal ini memang cukup luar biasa banyak. Namun dikatakannya, di Bumi Arema ini, segala macam perajin ada dan mempunyai potensi-potensi yang bagus.

"Di Malang perajin apapun luar biasa, sangat potensial. Kadang saya pergi ke kelurahan x, Saya ketemu kerajinan yang belum pernah saya temui. Nah, di situlah perlu difasilitasi dan kemudian kita bina menjadi sebuah industri mengangkat Malang sebagai kota kreatif," katanya.

Agus Sunandar, Juri dalam lomba Malang Pillow Festival 20109 tersebut, menejelaskan, jika festival ini sangatlah menarik untuk dikembangkan lebih jauh lagi. Sebab dirinya mengaku belum pernah menjumpai festival ini di daerah lain. Maka dari itu, festival ini bisa menjadi festival yang pertama di Malang, provinsi bahkan di Indonesia.

"Namun yang saya sarankan agar dalam festival ini, pemilihan nama tidak memakai bahasa Pillow yang memang lebih ke arah bahasa Inggris. Saya lebih menyarankan untuk misalnya menggunakan nama lain, seperti menggunakan bahasa sansekerta atau mencari nama lain bantal ini apa," pungkasnya.