Kapolrestabes Surabaya Kombespol Rudi Setiawan

Kapolrestabes Surabaya Kombespol Rudi Setiawan



Diantara para tamu yang hadir dalam acara Latsitarda Nusantara XXXXIX/2019 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (1/4) adalah Kapolrestabes Surabaya Kombespol Rudi Setiawan. Dia terlihat hadir mendampingi Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Kapolda Irjen Pol Luki Hermawan.

Latsitarda Nusantara adalah kegiatan yang mempertemukan para taruna Akademi Militer (Akmil) dan Akademi Polisi (Akpol). Acara ini dibuka oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama dengan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Dibuka dengan apel kegiatan ditutup dengan unjuk kebolehan pertunjukan taruna bermain mayoret. Setelah itu para taruna akan melakukan kegiatan bakti masyarakat di berbagai wilayah kabupaten serta kota Jawa Timur.

Melihat para taruna tersebut beraksi Rudi teringat masa lalunya. Dia merupakan Akpol lulusan tahun 1993. Dan menjadi kepala di Polrestabes Surabaya sejak tahun 2018 hingga saat ini.

Sebelum mendaftar jadi polisi Rudi mengatakan punya kisah tersendiri. Orang tuanya yang memiliki latar belakang PNS biasa di dinas perpajakan sempat tidak memberikan restu dia mendaftar jadi polisi.

"Tapi karena saya memang suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan militer, saya daftar saja. Cuma ya gitu ternyata tidak masuk," ujarnya kepada SurabayaTIMES.

Gagal yang pertama, Rudi kemudian mengulang di tahun berikutnya. Tapi nasibnya masih tetap sama yaitu tidak diterima. "Sampai tiga kali daftar. Tetap gagal," tuturnya.

Setelah itu Rudi pun coba merayu orang tuanya agar diberikan restu. Dia kemudian bersujud mencium tangan serta kaki ibunya. "Setelah itu saya berhasil di kesempatan yang terakhir. Alhamdulillah," bebernya.

Rudi kemudian sempat memberikan komentar kehidupan taruna saat ini dan zamannya dahulu. Di mana dianggap lebih keras saat masa pendidikannya dahulu. "Tapi zaman memang sudah berubah," tuturnya.

Saat ini kata dia tidak diperlukan lagi model kekerasan dalam pendidikan. "Kalau bisa dengan cara yang baik, kenapa harus pakai kekerasan," imbuhnya.


End of content

No more pages to load