Menteri Hukum dan Ham Yasona saat berbincang dengan pendeta gereja merah (Agus Salam/Jatim TIMES)
Menteri Hukum dan Ham Yasona saat berbincang dengan pendeta gereja merah (Agus Salam/Jatim TIMES)

Kitab Suci umat kristiani yang ada di Gereja Merah Kota Probolinggo, diminta untuk disimpan di Badan Arsip nasional. Pihak Gereja belum menyatakan sikap dan akan membicarakan dengan ummat terkait permintaan tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Pendeta Ribca Atalaka, usai Menteri Hukum dan Ham Yasonna Hamonangan Laoly, saat berkunjung ke gereja yang berlokasi di Jalan Suyoso tersebut, Kamis (27/3) pukul 07.00. Menurut Ribca permintaan pak menteri akan dibawa dalam rapat jemaat. “Bagaimana nanti keputusannya, kami serahkan ke jemaat,” tandasnya.

Disebutkan, pihaknya harus menempuh prosedur sebelum menyerahkan kitab yang dibawa langsung dari Negeri Belanda tersebut. Menurutnya, kitab cetakan tahun 1600 itu harus dibawa ke negera asalnya untuk dibuatkan replikanya. “Dibuat replikanya dulu di Belanda. Minimal 2 buah.  Satu ditaruh di Belanda dan yang satu diserahkan ke Arsip Nasional,” tandasnya.

Sedang kitab aslinya dibawa lagi ke Indonesia atau gereja merah. Ditanya soal kunjungan menteri Yasonya, perempuan kelahiran Banjar Baru ini bangga dan mengapresiasi kedatangan Menteri berdarah Nias tersebut.

“Ya bangga. Bangganya karena beliau mau datang ke kota kecil seperti Probolinggo. Beliau juga mau berkunjung ke gereja. Beliau mengagumi gereja ini. Kata pak menteri bagus dan pesannya tetap dipelihara,” kata pendeta Ribca.

Sementara itu, menteri Yasonna tidak lama berkunjung di gereja merah atau Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat Immanuel tersebut yakni sekitar 15 menit. Setelah berdoa, Yasonta langsung meluncur ke Universitas Nurul Jadid, Paiton Kebupaten Probolinggo untuk memberikan kuliah. “Habis dari gereja ini, kami mau menyampaikan kuliah di Nurul Jadid,” tandas Yasonna.

Yasonna mengagumi gereja dan menilai hubungan antar umat di Kota Probolinggo terpelihara baik. Sehingga gereja yang dibangun dengan sistem bongkar pasang, 20 Juli 1863 tersebut masih terpelihara dengan baik. Padahal, Probolinggo, masuk wilayah tapal kuda yang umat islamnya cukup banyak. “Ya, hubungan antar umat di sini cukup baik, meski kota ini berada di tapal kuda,” tambahnya.

Yasonna mengaku berkunjung ke gereja yang hanya ada dua di dunia yakni di Belanda dan Kota Probolinggo atas rekomendasi wali kota Hadi Zainal Abidin dan Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal. 

“Saya direkomendasi Pak Wali (Wali Kota) sama Pak Kapolres (Kapolresta) untuk singgah di Gereja Merah. Sangat unik. Kebanggan bagi saya bisa datang ke sini karena gereja ini dibuat di Belanda dan didirikan di sini 20 Juli 1863,” ungkapnya.

Setelah berkeliling, Yasonna ditunjukkan sebuah Al Kitab asli yang dibawa Belanda. Melihat kitab suci umat Kristian yang dicetak tahun 1600, Yasonna berkeinginan untuk menyimpan kitab yang bagian luarnta terbuat dari kulit ini di Arsip Nasional RI. 

“Saya minta ke Ibu Pendeta kalau Al Kitabnya disumbangkan ke Arsip Nasional untuk dirawat. Nanti copy-nya yang disimpan di sini,” pungkasnya sebelum meninggalkan gereja.