Orang tua korban histeris saat di kamar mayat RSUD dr Mohamad Saleh, Kota Probolinggo (Agus Salam/JatimTIMES)
Orang tua korban histeris saat di kamar mayat RSUD dr Mohamad Saleh, Kota Probolinggo (Agus Salam/JatimTIMES)

Sulastri (42) meninggal dunia setelah dihantam kereta api (KA) Tawangalun jurusan Banyuwangi-Malang, Selasa (26/3) sekitar pukul 09.30. Warga Desa Ngepoh, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo tersebut, ditabrak KA diduga karena bunuh diri.

Perempuan yang awalnya mondar-mandir di sekitar rel, tiba-tiba menabrakkan diri ke KA yang melintas di depannya, di Desa Bayeman, Kecamatan Tongas. Akibatnya, tubuh korban hancur menjadi beberapa bagian, sedang KA yang menabraknya sempat berhenti. Tubuh korban kemudian dibawa ke kamar mayat RSUD dr Mohamad Saleh Kota Probolinggo.

Suraji warga setempat mengaku, tidak tahu pasti kejadiannya. Namun, dari beberapa informasi yang didapat dari warga, kalau korban sebelum menabrakkan diri ke KA yang melaju cepat, sempat mondar-mandir di sekitar rel. Sementara sepeda motor yang dikendarainya, diparkir di dekat rel. “Sepeda motornya tidak apa-apa,” katanya.

Sumaji dan warga yang lain heran, mengapa perempuan yang awalnya duduk di dekat sepeda motornya, tiba-tiba bangun dan lari kearah utara saat KA sudah dekat. Disebutkan, warga sempat berteriak memberitahu kalau ada KA. Namun, peringatan warga tak digubris. “Sudah diteriaki sama warga, kalau ada sepur. Mungkin korban tidak mendengar,” pungkasnya.

Sementara itu keluarga korban histeris  dan menangis sejadi-jadinya, bahkan ada yang tidak mampu berdiri, saat tiba di kamar mayat. Arfi (39) adik korban sempat menerobos kerumunan warga di depan kamar mayat. Ia hendak melihat jasad kakak perempuannya. Hanya saja, keluarga dan penjaga atau satpam RSUD, tidak mengizinkan.

Arfi tidak menggubris larangan petugas security dan keluarganya, ia beberapa kali memaksa masuk ke kamar mayat yang dijaga 2 satpam tersebut. Arfi melunak, setelah petugas membujuk akan mengizinkan Arfi masuk kalau petugas kamar mayat selesai bekerja. “Ibu, kalau petugas kamar mayat sudah selesai, nanti ibu boleh masuk,” ujar salah satu petugas scurity.

Waqik, orang tua korban mengatakan, anaknya mengakhiri hidupnya seperti itu akibat suaminya. Sebelumnya Sulastri dan suaminya sering terlibat cek-cok alias bertengkar, sehingga korban pulang ke rumah Waqik. Pemicu pertengkaran adalah soal ekonomi. “Ya soal ekonomi. Suaminya tidak kerja. Yang kerja anak saya,” ujarnya.