Ribuan anak sedang menari tarian Rampak Sumebyar di Halaman Balai Kota Among Tani, Senin (23/7/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

Ribuan anak sedang menari tarian Rampak Sumebyar di Halaman Balai Kota Among Tani, Senin (23/7/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)



Memprihatinkan, kekerasan pada anak dan perempuan di Kota Batu semakin meningkat. Jika pada tahun 2017 hanya 9 kasus kekerasan, angka itu naik tiga kali lipatnya, yakni 31 kasus di Kota Batu.

Padahal tahun 2016 silam angka kekerasan anak itu 11 kasus. Sehingga pada tahun 2017 mengalami penurunan dua kasus.

Kekerasan yang terjadi pada korban ini rata-rata berimbas mengalami trauma, kekerasan fisik, ditelantarkan hingga pelecehan seksual.

“Jumlah kasus ini berdasarkan data Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Batu,” ucap Konsultan Hukum P2TP2A Kota Batu, Salma Safitri Rahayaan.

Ia menambahkan hingga saat ini ada 24 kasus yang sedang ditangani oleh P2TP2A. Dari 24 kasus yang ditangani itu terdiri dari usia anak-anak hingga dewasa.

Mereka yang menjadi korban itu dengan beragam permasalahan. Mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, hak asuh anak, pelecehan seksual terhadap anak-anak, dan sebagainya. 

Penanganan yang dilakukan oleh P2TP2A mulai dari pendampingan psikologis hingga penyelesaian masalah secara hukum. 

Untuk mengatasi permasalahan ini lanjut Salma, pihaknya mengusulkan agar di Kota Batu ini memiliki Rumah Aman bagi anak. “Rumah Aman ini upaya untuk mengurangi angka kekerasan pada anak dan perempuan,” imbuhnya.

Selain itu pihaknya juga langsung terjun untuk memantau kegiatan korban di lingkungan. Terutama pada korban yang mengalami kekerasan, dari situ bisa dicari sebuah solusi permasalahan tersebut. 


End of content

No more pages to load