Abdul Wahab dan rekan bersama puluhan kliennya saat melapor ke Polresta Probolinggo (Agus Salam/Jatim TIMES)

Abdul Wahab dan rekan bersama puluhan kliennya saat melapor ke Polresta Probolinggo (Agus Salam/Jatim TIMES)


Pewarta

Agus Salam

Editor

Heryanto


Sementara itu, kuasa hukum para nasabah Abdul Wahab Adi Negoro menyatakan, laporannya sudah diterima Polresta dan bukti penerimaannya sudah dipegang. 

Kliennya menempuh jalur hukum, karena janji-janji KSU MP tidak pernah terealisasi. 

“Kami melaporkan pengurus koperasi, bukan pak Welly Sukarto. Kebetulan, ketua koperasinya pak Welly,” tandasnya, saat menunggu bukti penerimaan laporan.

Selain itu, advokat asal Kota Malang ini menyebut, diduga koperasi telah melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan. 

Pasal yang digunakan adalah pasal 379 A KUHP penipuan sebagai mata pencaharian. 

Sedang untuk kasus dugaan penggelapannya,  pasal 374 KUHP Penggelapan dalam jabatan.

Disebutkan, Welly Sukamto sebagai terlapor dan pengurus yang lain turut terlapor, telah menipu masyarakat dan nasabah. 

Tahun 2016 koperasi masih tetap mencari atau menerima tabungan dan deposito dari anggota dan msayarakat, padahal, koperasi dalam kesulitan likwiditas.

“Koperasi dalam kesulitan likwiditas, itu pernyataan pak Welly. Pernyataan itu tertuang digugatan. Pak welly kan menggugat mantan ketua koperasi Zulkifli Chalik. Kebetulan, saya sebagai kuasa hukum dari tergugat Zulkifli Chalik.,” tandasnya.

Koperasi yang kesulitan keuangan, mestinya lanjut A Wahab, tidak boleh mencari atau menerima tabungan atau deposito dari siapa saja. Meski tabungan dan deposito yang diperoleh untuk mengatasi kesulitan koperasi. 

“Lantas kemana uangnya. Uang anggota belum ada yang dibayar. Nah, disinilah penipuannya.” tambahnya.

Mengenai penggelapannya, Welly telah menjual asset koperasi berupa kantor di jalan raya Panglima Sudirman. 

Disebutkan, bulan Agustus 2018 kantor KMP dijual 2 kali dan laku ke penjual pertama, Rp7 miliar. Sedang pembeli kedua, laku Rp4 miliar.

“Saat pembeli pertama ke bank untuk mengambil sertifikatnya, sudah diambil oleh pak Welly. Ternyata dijual lagi ke orang lain,” jelasnya.

Menjual Asset koperasi untuk membayar uang nasabah yang nyantol tidak masalah. 

Tetapi jika masuk kantong sendiri atau untuk kebutuhan diluar koperasi, kata Wahab, tidak boleh dan disanalah ada unsure penggelapan. 

“Buktinya dari Juli 2018 hingga sekarang, uang nasabah tidak ada yang dibayar. Padahal kantor itu, dijual Agustus 2018. Saya memiliki bukti penjualannya,” tambahnya.

Pihanya saat ini masih mencari dan mengumpulkan data asset koperasi yang belum dijual. Karena menurutnya, asset koperasi adalah jaminan koperasi. 

Jika koperasi tidak mengalami kesulitan keuangan hingga tidak mampu membayar tabungan atau  deposito, maka aset tersebut harus dijual. 

“Kami masih menginventaris asset koperasi. Nanti saya laporkan ke penyidik temuan kami soal asset koperasi,” ujarnya.

Ia berharap, polresta mengeluarkan surat cekal (Segah dan Tangkal) terhadap Welly dan pengusur koperasi lainnya. 

Wahab berharap seperti itu, khawatir Welly kabur ke luar negeri. 

Mengingat, tidak hanya di Kota Probolinggo yang bermasalah. Cabang koperasi di Lumajang dan Pasirian, juga bermasalah. 

“Harusnya dicekal. Khawatir kabur ke luar negeri,” pungkasnya.

Terpisah, Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal mengaku, sudah menerima laporan anggota KSU MP. 

Pihaknya akan menindaklanjuti laporan tersebut dengan cara melakukan penyelidikan. 

Pihaknya akan memanggil dan memintai keterangan pelapor dan pengurus KSU MP sebagai terlapor. 

“Ya, laporannya sudah kami terima. Tentunya kami tindaklanjuti. Kami akan melakukan penyelidikan,” ujar kapolresta singkat. 


End of content

No more pages to load