Pasar Krempyeng Suruji Lumajang berdampingan dengan Musholla Baitus Salam (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)

Pasar Krempyeng Suruji Lumajang berdampingan dengan Musholla Baitus Salam (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)



Mengintip Perjalanan Pasar Krempyeng Suruji Lumajang  1

Jika ada akan melintas jalan Mayor Kamari Sampoerno (MKS) Lumajang dipagi hari, bersiaplah untuk berbagi jalan dengan para pedagang di ruas jalan tersebut. Pasar Krempyeng Suruji atau masyarakat Lumajang menyebutnya dengan pasar Krempyeng Seruji, memang selalu ramai dipagi hari, setidaknya antara pukul 05.00 sampai pukul 11.00.

Media ini mencoba menelusuri sejarah berdirinya pasar yang cukup ramai tersebut dan menggali informasi terkait awal berdirinya pasar ini. Kami menemui sejumlah tokoh masyarakat setempat untuk mendapatkan informasi tentang sejarah pasar tersebut.

Muhammad Zubad, yang bertugas sebagai penarik iuran dari pedagang sejak tahun 1976 menceritakan, bahwa pasar Krempyeng Suruji ini dibangun diatas lahan makan, yang dibongkar dengan tujuan utama untuk membangun musholla.

“Jadi dulu itu awalnya warga ingin membangun musholla, kemudian dibangun pasar di sebelahnya. Dengan harapan, ada iuran dari para pedagang pasar untuk biaya pengelolaan musholla itu pak. Itu awalnya. Karena  untuk musholla, maka warga dengan sukarela memindah sendiri dengan cara gotong royong makam-makam keluarga mereka. Ya itu sekitar tahun 1969, tapi pastinya saya juga lupa, tapi sekitar tahun itulah,” kata Muhammad Zubad, yang sampai saat ini masih bertugas penarik iuran kepada para pedagang.

Hal yang sama disampaikan oleh mantan Sekretaris Kelurahan Ditotrunan, yang sekarang sudah berusia 74 tahun. Ketika masih muda Usman Aji mengaku mengetahui proses pemindahan makam tersebut untuk kepentingan pembangunan musholla dan pasar krempyeng tersebut.

“Ya dulu memang makam itu dipindah semuanya, kecuali satu orang yang sudah dikubur lebih dari 20 tahun, namun jazadnya tetap utuh. Dia seorang pejuang, ya tentara begitu. Katanya beliau itu sakti, makanya jazadnya utuh dan tetap dipertahankan ada dilokasi Musholla itu. Jazad utuh sama kulit-kulitnya juga,” kata Usman Aji.

Kini, jika benar pasar ini dibangun pada tahun 1969, maka usia Pasar Krempyeng Suruji sudah berusia 50 tahun. Bentuknya juga sudah jauh berubah. Jika dulu hanya ada beberapa lapak di dalam pasar, kini di jalanan MKS justru lebih ramai. Bahkan ramainya pasar Suruji juga dimanfaatkan oleh pedagang dari luar Ditotrunan, untuk ikut mendaparkan rezeski dengan menggelar barang dagangannya di pasar ini.

Terakhir, pasar yang banyak didominasi oleh sayur dan buah-buahan ini sudah meluber sampai ke depan Kantor Kelurahan Ditrotrunan, dalam bentuk lapak berjalan seperti sepeda motor, motor roda 3 sampai mobil. 


End of content

No more pages to load