Ilustrasi puisi (Istimewa)

Ilustrasi puisi (Istimewa)



Cerita Puisi (2)

*dd nana

- Kami, para puisi menyatakan diri. Bukan sebagai tunggangan perang untuk mencari kursi. Hal-hal yang berisik dan mengusik kami, dimohon secara seksama dan secepatnya di kebumikan dalam hati. Karena awal ada kami adanya di hati - 

4) Diberanda Rumah Sederhana

Shakespeare pernah putus asa. Melihat wajah-wajah di atas panggung sandiwara yang silih berganti. Sedang angin di luar sana masih saja menyanyikan rasa pedih yang merasuk tulang.

Tak ada yang berubah, hanya wajah-wajah. Jemarinya gemetar digigilkan usia dan putus asa. Dan tuhan pun menyapanya, "berhentilah menyeru-nyeru yang kau sebut kebenaran. Itu hanya debu tuan. Saatnya kau serukan lebih lantang cinta, hanya cinta. Kau faham?".

Romeo and Juliet ?

Ha ha ha ha ha...

Menyaru cinta, bolehlah. Tapi apa beda dengan kau menyerukan kebenaran-kebenaran yang kau anggap suci itu. Otakmu rugi hanya mengumpulkan remah makanan yang kau anggap kebenaran universal.

Shakespeare semakin menua dengan rambut perak yang menutupi segala gelap yang dimiliki manusia-manusia di atas panggung. Sampai kelak, di suatu sore yang tak dikunjungi senja, di sebuah beranda rumah sederhana.

Matanya terbuka menatap cinta. Yang datang tanpa seruan, nyanyian, hiruk pikuk bendera dan kebenaran-kebenaran sebiji zarah yang diagungkan kepala-kepala yang memerangkap dirinya sendiri.

Cinta datang menyapanya dan mengajak bercakap-cakap. Tentang hal sederhana, tentang hidup yang apa adanya.

Air mata menyempurnakan senja di beranda rumah sederhana.

"Ya, hidup sebenarnya sederhana saja," ucapnya.

5) Kelahiranku Dari Mulut Binatang Jalang

Dari mulut yang selalu berasap. Serta merontokkan rasa jenuh hati para perawan. Serta kerap membuat jengah lawan bicaranya. Kami, berlahiran liar dalam keindahan asing yang belum dikenali.

Menjadi binatang-binatang jalang di petak-petak perkotaan. Hutan, terlalu mahal untuk dihuni dan beresiko tinggi. Hutan adalah rumah gerombolan bersenjata dan para danyang menakutkan.

"Bukan penyair dilarang masuk," ketus mulut ibu kami. Kami begitu riang dengan pilihannya itu. 

Sebelum datang zaman yang mereka sebut kebebasan. Bebas untuk menunggangi kami dengan polahnya yang tak bisa kami mengerti. Kami diperalat untuk hal-hal sepele dan dibuat runcing. Agar bisa membuat yang lain terluka.

Ah, kami rindu ibu. Yang melahirkan kami dari mulutnya. Yang membuat kami bisa meresapi energi hujan, basa tanah, aroma bunga, kepak kupu-kupu dan panasnya bara api. Bahkan menikmati debu-debu yang menempel di kulit kami.

"Bukan penyair dilarang masuk," tapi kini tak ada lagi pintu yang tertutup.

6) Peradilan Puisi

Pernah kami menyerupai manusia. Mencipta peradilan dengan segala gaya manusia di dalamnya. Kami hadirkan seekor puisi jelita yang disebut umat kami pemberontak.

Sungguh, kami menyesal menyerupai manusia. Saat ucapan puisi jelita, si pesakitan yang papa, kami berangus di kobaran api. Tubuhnya ikut meleleh serupa plastik terbakar. 

Setelahnya sepi mendera-dera batin kami semua.

Sungguh kami menyesal menyerupai manusia.

7) Puing Yang Diserakkan Angin Senja

Sisa-sisa. Tapi kami masih ada. Walau malu-malu dan begitu ragu. Mulut kami tidak lagi serupa binatang jalang. Tapi, kami masih dikulum oleh sebagian yang telah jengah dengan hiruk pikuk yang terlihat begitu kikuk.

Walau kami masih saja kecewa. Dari mulut-mulut mereka belum lahir sekawanan kami.

Jadi ijinkan saja kami ikrarkan diri. "Kami, para puisi menyatakan diri. Bukan sebagai tunggangan perang untuk mencari kursi. Hal-hal yang berisik dan mengusik kami, dimohon secara seksama dan secepatnya di kebumikan dalam hati. Karena awal ada kami adanya di hati.".

Di luar hujan di bulan Maret masih saja meringkik.

 


End of content

No more pages to load