Salah satu umat Hindu asal Kota Malang tengah membawa sesaji untuk upacara Ngembak Geni di Candi Badut. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Salah satu umat Hindu asal Kota Malang tengah membawa sesaji untuk upacara Ngembak Geni di Candi Badut. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



Usai perayaan Nyepi, umat Hindu di Malang Raya melanjutkan ritual keagamaan dengan mengikuti upacara Ngembak Geni. Berlangsung di Candi Badut, sekitar dua ribu umat dari Malang Raya menghantarkan sesaji dan juga bersembahyang bersama di halaman candi. 

Hari ini (8/3/2019) dengan berbusana kebaya dan kemeja putih, warga Hindu yang datang langsung mendapatkan percikan air suci. Sebagian juga langsung meletakkan sesaji di pelataran candi yang sudah dihias dengan kain kuning di sekelilingnya. 

Ketua Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang Putu Moda Arsana mengungkapkan, Ngembak Geni merupakan rangkaian terakhir dari perayaan Nyepi. Yakni ditandai dengan kegiatan sembahyang bersama sebagai bentuk ucapan syukur pada Sang Hyang Widi Wasa atas perlindungan yang telah diberikan. 

"Satu hari setelah Nyepi ini dilanjutkan Ngembak Geni dan Dharma Shani untuk menyadarkan lagi catur brata penyepian. Tahun ini kami juga mengangkat tema Melalui Catur Brata Penyepian, Kita Sukseskan Pemilu 2019," ujar Moda saat ditemui usai upacara. Tema itu sengaja diangkat agar umat Hindu di Malang Raya bisa ikut menjaga kondusivitas dan kedamaian selama tahun politik. 

Wali Kota Malang Sutiaji yang juga hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi peran aktif warga Hindu di Bhumi Arema. Perayaan Nyepi, menurut Sutiaji juga bermakna agar umat bisa menyepi dari pamrih dan angkara murka. "Selama ini terbukti umat Hindu tidak pernah terlibat yang aneh-aneh. Ini merupakan pengejawantahan penguasaan diri sendiri yang mereka lakukan," tuturnya.

Kaitannya dengan Pemilu, lanjut Sutiaji, tema sentral peringatan tersebut agar umat Hindu bisa ikut menjaga kedamaian di Indonesia, utamanya di Bhumi Arema. "Dengan Nyepi semoga Pemilu ke depan bisa damai dengan dibarengi kesucian hati. Jangan sampai orang saling merasa paling hebat sampai menjadi motor intrik kelompok dan lain-lain," paparnya.  

Sutiaji sendiri bersyukur selama ini kondusivitas dan toleransi umat di Kota Malang terjaga dengan baik. "Malang ini toleransi umat beragama nomor satu versi FKUB Provinsi. Di sini (sekitar candi) lingkungannya orang muslim. Artinya kita saling ngerti itu domain agama masing-masing dan tidak saling mengganggu," pungkasnya. 

Tag's Berita

End of content

No more pages to load