Putri Angraeni seorang petugas Linmas di Surabaya

Putri Angraeni seorang petugas Linmas di Surabaya



Tubuhnya tegap berdiri, dengan balutan hijab warna kuning pekat menjadi bagian seragam pada tubuhnya. Genggaman erat HT (handy talkie) di tangannya seolah menggambarkan bentuk sigap dalam berkoordinasi. Itulah Putri Anggraini, perempuan yang berprofesi sebagai Danton (Komandan Pleton) yang menaungi pleton kompi C3, Badan Perlindungan Bencana (BPB) dan Linmas Kota Surabaya.

Berawal dari pekerjaannya sebagai seorang security pada sebuah mall di Surabaya, kemudian Putri melanjutkan perjalanan hidupnya dengan meniti karier sebagai anggota Linmas sejak 2016 lalu. Ia menjelaskan untuk bergabung menjadi bagian anggota keluarga besar Linmas, ia harus mengikuti beberapa tahapan prosedur. Di antaranya seleksi, dan mengenyam pendidikan di Kolatmar (Komando Latih Marinir) selama 10 hari. “Saya ikut pelatihan, dan bersyukur sekali bisa gabung disini,” ujar Putri – sapaan lekatnya.

Perempuan kelahiran 1994 silam ini, mengaku tidak mudah dalam mengatur anggota, terlebih semuanya adalah perempuan. “Ya, dengan total tim sebanyak 40 orang dan itu wanita semua, saya berharap bisa kompak, kerja nyaman bertanggung jawab dan tetap disiplin,” tambahnya.

Suka duka menjadi seorang pelindung masyarakat memang nano-nano, perempuan asal Surabaya ini juga menceritakan berbagai pengalaman menariknya saat membantu masyarakat. Saat itu ia bertemu dengan anak usia kurang lebih 8 tahun asli Kota Palu. Diketahui anak tersebut tidak tahu jalan pulang menuju panti asuhan tempat ia tinggal di wilayah Surabaya.

“Komunikasi kami juga tidak begitu nyambung, karena dia kurang paham Bahasa Indonesia. Akhirnya, setelah keliling tujuh jam Kota Surabaya, baru lah nemu panti tempat ia tinggal. Disitu saya merasa senang sekali,” tuturnya

Meskipun demikian, Putri mengaku, di tengah pekerjaannya yang cukup menguras tenaga ini, ia juga harus membagi waktu sebagai seorang istri dan ibu dari satu anak. “Yaaa, membagi waktu antara keluarga dengan pekerjaan memang tidak mudah, apalagi anak saya usia tujuh bulan dan suami juga bagian dari tim Linmas, yang penting harus jaga komunikasi,” ujarnya.

Sebelum bekerja sebagai anggota Danton C3 BPB dan Linmas Surabaya, Ibu satu anak ini mengaku pernah melanjutkan jenjang pendidikan di Akademi Kelautan Banyuwangi. Namun, pendidikannya itu terpaksa harus terhenti lantaran persolan biaya. “Jadilah wanita mandiri, tangguh memiliki prinsip dan berkarya,” tutupnya. 


End of content

No more pages to load