Plt Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo menanam tanaman kopi di Jurang Senggani(foto : Joko Pramono/Tulungagungtimes)
Plt Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo menanam tanaman kopi di Jurang Senggani(foto : Joko Pramono/Tulungagungtimes)

Kopi,  minuman berwarna hitam yang dulunya hanya bisa dinikmati oleh bangsawan Eropa, seiring perkembangan jaman minuman bercitarasa pahit dan asam ini kini menjadi minuman sejuta umat. 
Banyak perkebunan kopi bertebaran. Termasuk di Kabupaten Tulungagung. Di Tulungagung budidaya kopi berada di wilayah kecamatan Sendang.  

Ada 2 jenis kopi yang dibudidayakan, kopi Komasti yang berasal dari Jember dan kopi asli Tulungagung, kopi cobra yang merupakan akronim dari Colombia-Brasil. Kopi cobra sendiri lebih dikenal sebagai kopi arabica java yang hampir punah. 

Awalnya hanya ada sekitar 10 batang pohon ini, sadar jika kopi ini merupakan kopi asli Tulungagung yang hampir punah,  warga swadaya membudidayakan kopi ini. 

Saat ini ada sekitar 3.500 batang jenis kopi ini. Sedang kopi Komasti sudah tertanam sebanyak 20 ribu batang. 
Kondisi geografis wilayah Kecamatan Sendang yang berada di lereng pegunungan Wilis dirasa cocok untuk budidaya kopi. 

"Kita tahu kondisi geografis (Sendang) menjadi pertimbangan karena jenis arabica akan baik ditanam diatas ketinggian 800 meter (diatas permukaan laut)," ujar Plt. Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo, Senin (25/2/19). 
Untuk mengembangkan pertanian kopi ini, Pemkab Tulungagung akan melakukan intensifikasi perkebunan.

"Petani mengerjakan secara intensif atau bersungguh-sungguh agar bisa merasakan hasil dari tanaman kopi ini," imbuhnya saat menghadiri Coffee camp yang diinisiasi oleh Bank Indonesia (BI) bersama Pokdarwis Jurang Senggani. 

Sementara itu Kepala BI Kediri,  Djoko Raharto utarakan alasan pemilihan Sendang sebagai sentra budidaya kopi. Selain kondisi geografis, adanya peternakan sapi dan tempat wisata menjadi pertimbanganya. "Kita ingin integrated farming (pertanian terintegrasi), zero waste, kotoran sapi untuk pupuk,  sapinya pakan fermentasi," tutur Djoko. 

Tak cukup sampai disitu, pihaknya juga akan menggeret pelaku keuangan untuk gathering di sini (Jurang Senggani-red).  "Kumpul disini,  camping disini yang menyediakan makanan warga sekitar, multi player ekonominya akan luar biasa," ujar pria bertubuh subur itu. 

Dalam acara itu juga dilakukan lelang kopi hasil dari perkebunan warga sekitar. Tujuanya untuk menunjukan pada petani sebagai bentuk dukungan pihaknya. "Ada 2 jenis kopi yang kita lelang,  Komasti dan Cobra," ujarnya.