Wakil Wali Kota Blitar Santoso bersama para pemain drama dari sanggar seni dan pelajar ketika selesai pementasan.(Foto : dok/BlitarTIMES)

Wakil Wali Kota Blitar Santoso bersama para pemain drama dari sanggar seni dan pelajar ketika selesai pementasan.(Foto : dok/BlitarTIMES)


Editor

A Yahya


Seperti tahun-tahun sebelumnya, peristiwa pemberontakan PETA ini diperingati dengan mengadakan pentas teatrikal Drama Kolosal Pemberontakan PETA. Acara drama kolosal pemberontakan PETA di Blitar ini akan digelar pada hari Kamis, 14 Februari 2019. Dimulai pukul 19.00 di Monumen Peta depan TMP Kota Blitar.

Ketua Panitia, Andika Yudha Narotama mengatakan pentas teatrikal Pemberontakan PETA kali ini akan tampil agak berbeda dari tahun-tahun biasanya. Pasalnya, selain melibatkan sekitar 250 pelajar di Kota Blitar kisah perjuangan heroik tentara PETA akan  melibatkan truk TNI Yonif 511, beberapa mobil jeep dan juga cikar sebagai properti pelengkap dalam drama teatrikal tersebut.

"Drama Kolosal Pemberontakan PETA kali ini nampaknya akan agak beda dari tahun-tahun sebelumnya, soalnya kita akan menggunakan 2 panggung yaitu, panggung monumen dan juga ruas jalan depan TMP juga akan kita gunakan sebagai panggung, maka jalan juga akan kita tutup," katanya BLITARTIMES, (11/2/2019).

Andhika menambahkan, ada beberapa ruas jalan yang akan ditutup pada Kamis, 14 Februari 2019 mendatang. Ruas jalan tersebut antara lain, mulai dari sebelah barat yaitu pertigaan lampu merah SPBU Bendogerit Jalan Soedanco Soeprijadi, sebelah timur hingga Kantor Kejaksaan Negeri Blitar dan sebelah utara yaitu Jalan Hasanuddin hingga perempatan Jalan Wr. Supratman Kita Blitar.

"Selain kita gunakan 2 panggung, dan beberapa properti mobil dan cikar, kita juga akan memasang barikade agar penonton bisa menikmati pentas teatrikal tersebut. Kenapa demikian, belajar dari tragedi Surabaya Membara beberapa waktu lalu, kita gak mau ambil resiko lebih," sambungnya.

Menurutnya, setelah menggelar kurang lebih sembilan kali latihan, drama yang diikuti ratusan pelajar dan seniman dari Sanggar Patrialoka ini menuai antusiasme masyarakat yang cukup banyak.

Kisah perjuangan heroik tentara muda PETA dibawah pimpinan Soedanco Soeprijadi melawan kekejaman penjajah Jepang ini diharapkan akan lebih semarak dari tahun-tahun sebelumnya. Meski dalam sejarahnya mereka gagal meraih kemenangan, usaha tentara Peta ini patut menjadi awal perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

"Harapan kami, tiga hari menjelang pentas teatrikal kali ini, semoga kita bisa menampilkan yang terbaik bagi seluruh penonton. Dan kami ucapkan terima kasih atas dukungan berbagai pihak yang sudah membatu semua kelancaran acara ini," pungkasnya.(*)


End of content

No more pages to load