Wali Kota Malang Sutiaji saat menunjukkan jarum suntik yang dimodifikasi pada sebuah bulpoin (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

Wali Kota Malang Sutiaji saat menunjukkan jarum suntik yang dimodifikasi pada sebuah bulpoin (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).



Wali Kota Malang, Sutiaji melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SMPN 13 pada Senin, (11/2/2019). Sidak tersebut berkaitan dengan banyaknya kabar yang beredar terkait adanya siswa yang sengaja dikeluarkan lantaran diduga terlibat kasus narkotika.

Saat melakukan sidak, pria berkacamata itu meminta klarifikasi secara langsung terkait kebenaran kabar yang beredar tersebut. Ternyata, setelah berkomunikasi dengan pihak sekolah, Sutiaji mendapati fakta jika empat siswa yang disebut melanggar peraturan sekolah itu tidak keluar.

"Kabarnya kemarin kan katanya dikeluarkan, padahal tidak begitu. Mereka dicarikan sekolah baru dengan pertimbangan dan kebijakan yang dibuat. Selain itu, empat anak tersebut bukan terlibat narkotika, tapi miras dan merokok," katanya usai melakukan sidak pada wartawan.

Menurutnya, sanksi yang diberikan kepada ke empat siswa kelas VII tersebut sudah melalui proses pembinaan terlebih dulu. Dua anak diantaranya dipindahkan ke sekolah lain, dan dua lagi saat ini masih sekolah di SMPN 13 Kota Malang.

Pihak sekolah menurutnya juga sudah berkomunikasi dengan dua lembaga pendidikan yang dituju untuk memindahkan dua siswa yang dinilai melanggar aturan tersebut. Sehingga pengawasan dapat diberikan kepada dua siswa yang dimaksud.

"Dipindahkan ke sekolah lembaga pendidikan Islam dan satu lagi ada yang rencananya dipondokkan. Karena di pondok penguatan religinya lebih, dan diawasi setiap saat," imbuhnya.

Menariknya, di tengah inspeksi mendadak itu, suami Widayati Sutiaji ini juga menemukan kenakalan lain yang dilakukan oleh siswa kelas VII SMPN 13 Kota Malang itu. Salah satunya jarum suntik yang sudah dimodifikasi dengan bulpoin.

"Ini juga tadi nemui ada yang memasang jarum semacam jarum suntik di bulpoin, dan itu dibuat nusuk temen-temennya waktu salat berjamaah," tambah pria berkacamata itu.

Perilaku yang masuk dalam kategori menyimpang itu menurutnya memang menjadi salah satu bentuk kenakalan dari seorang siswa. Sehingga lalu mendapat perhatian lebih dari guru maupun orangtua.

"Ini bukan iseng, tapi benar-benar memodifikasi," paparnya lagi.

Dia pun meminta agar orangtua tetap memberi perhatian lebih kepada anak-anaknya. Karena anak bukan sepenuhnya menjadi tanggung jajawab sekolah. Sehingga pengawasan harus tetap dilakukan orangtua saat ada di luar kawasan sekolah.

"Dunia dituntut dalam revolusi 4.0 kalau akhlaq nggak ditata maka akan terjadi hal yang tidak diinginkan, maka orangtua harus tetap membekali anaknya dengan pengetahuan dan akhlaq," pungkas Sutiaji. 


End of content

No more pages to load