Petugas asesmen saat melakukan serangkaian agenda tes untuk pelaku narkoba (pria berbaju hitam), Kabupaten Malang (Foto : BNN Kabupaten Malang for MalangTIMES)

Petugas asesmen saat melakukan serangkaian agenda tes untuk pelaku narkoba (pria berbaju hitam), Kabupaten Malang (Foto : BNN Kabupaten Malang for MalangTIMES)



Di awal tahun 2019 ini, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Malang, tidak hanya disibukkan dengan sosialisasi dan serangkaian agenda menumpas pengguna sekaligus peredaran narkoba.

Nyatanya, tiga pelaku narkoba yang sebelumnya diringkus jajaran kepolisian Polres Malang, juga sedang diupayakan agar “terbebas” dari jerat hukum.

Diawali dengan awal Januari lalu, seorang pelaku dengan inisial JM warga Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Menjalani serangkaian agenda Tim Asesmen Terpadu (TAT), pada 31 Januari lalu.

Pria yang kini berusia 39 tahun tersebut, sebelumnya diamankan anggota kepolisian karena kasus narkoba jenis sabu-sabu.

Bergeser sepekan kemudian, agenda serupa kembali digelar. Kali ini giliran dua tersangka lain, yang menjalani TAT. Mereka adalah HR (30) warga Kabupaten Kediri dan MLS (30) warga Kabupaten Blitar. Diperoleh keterangan, kedua pelaku diamankan polisi, karena kasus narkoba jenis sabu-sabu.

Dimana MLS merupakan teman dekat HR. Sebelum diringkus polisi, MLS diajak HR untuk bertransaksi jual beli mobil. Namun, dalam beberapa kali kesempatan, uang hasil penjualan mobil tersebut, belakangan juga digunakan untuk membeli sabu dan dikonsumsi bersama. Hingga akhirnya, keduanya diamankan pihak kepolisian.

“Serangkaian tes asesmen ini bertujuan untuk mengali keterlibatan tersangka dalam jaringan narkoba. Jika terbukti hanya menjadi korban (pecandu) maka peserta TAT bakal mendapat rekomendasi untuk menjalani rehabilitasi,” kata Kepala BNN Kabupaten Malang, Letkol Laut (PM) Agus Musrichin, senin (11/2/2019).

Sebagai informasi, ketentuan TAT sudah diatur dalam pasal 54 dan 127 Undang-undang nomor 35 tahun 2009, tentang penanganan pecandu narkotika ke dalam lembaga rehabilitasi. Dimana jika seorang pecandu yang tidak terlibat jaringan peredaran narkoba, bakal diarahkan untuk menjalani rehabilitasi hingga kurun waktu yang sudah ditentukan.

Agus menambahkan, selain melibatkan anggota dari BNN Kabupaten Malang. Serangkaian tes TAT juga melibatkan peran dari Polres Malang dan Kejaksaan Kabupaten Malang.

“Tim dari kejaksaan dan kepolisian berwenang untuk melakukan analisa terkait keterlibatan peserta asesmen berdasarkan sudut pandang hukum. Sedangkan tim dari BNN berwenang untuk menentukan tingkat ketergantungan peserta TAT,” imbuhnya.

Nantinya, serangkaian tes asesmen yang telah dijalani, bakal berujung pada rekomendasi yang dilampirkan dalam berkas perkara. “Rekomendasi tersebut akan dijadikan bahan pertimbangan bagi hakim untuk membuat keputusan tetap. Jika sudah ada keputusan mutlak, peserta asesmen berhak menjalani rehabilitasi hingga waktu yang sudah ditentukan,” sambung Agus.

]umlah peserta rehabilitasi berdasarkan proses TAT itu, diperkirakan bakal mengalami penambahan. Sebab, dalam Oprasi Tumpas Narkoba Semeru 2019 lalu, Polres Malang berhasil mengungkap 81 kasus dan mengamankan 90 tersangka.

“Dari 90 tersangka, delapan diantaranya bakal direkomendasi untuk menjalani rehabilitasi di BNN. Sebab kami tidak menemukan cukup bukti guna dilakukan penyidikan. Berdasarkan tes urin yang dijalani ke delapan tersangka, mereka hanya dinyatakan positif menjadi pengguna narkoba,” tutup Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung.

 


End of content

No more pages to load