Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Made Arya Wedhantara (dua dari kiri) dan kepala dinas Badan Perencanaan Pembangunan Dan Penlitian (Bappeda) Kabupaten Malang Tomie Herwanto (dua dari kanan) saat berfoto di depan Warung Tani

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Made Arya Wedhantara (dua dari kiri) dan kepala dinas Badan Perencanaan Pembangunan Dan Penlitian (Bappeda) Kabupaten Malang Tomie Herwanto (dua dari kanan) saat berfoto di depan Warung Tani



Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Mulyoagung Kecamatan Dau Kabupaten Malang me-launching  kawasan wisata Pan Java. Konsep Pan Java ini sendiri berdasar pada banyaknya minat masyarakat terhadap even Mulyoagung Tempo dulu semacam Malang Kembali atau Malang Tempo dulu yang sangat besar. Melihat hal tersebut, Miftahul Adhim ketua Pokdarwis desa Mulyoagung, ahirnya membuat kawasan wisata Pan Java Ini.

“Dulu pernah ada even Mulyoagung Tempo Dulu, setelah even selesai, kita kaget, ternyata masyarakat seneng dengan adanya even kayak gitu, ahirnya muncullah ide supaya gak hanya even dan bisa continue, dibuatkanlah kawasan wisata ini,” ujar Adhim.

Kawasan wisata ini dikonsep dalam bentuk tempat tongkrongan yang beredukasi. Di Pan Java ini terdapat 4 zona, masakan kuliner, edukasi kopi, kesenian budaya, serta komunitas mancing mania dengan kolam pancingnya.

Launching Pan Java ini dilakukan  oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara dan kepala Badan Perencanaan Pembangunan Dan Penlitian (Bappeda) Kabupaten Malang Tomie Herawanto.

Made menyatakan bahwa kawasan wisata ini merupakan salah satu program nasional yang didengungkan oleh Presiden Indonesia. Made mengatakan bahwa program nasional tersebut adalah ajakan presiden kepada semua masyarakat agar kreatif dalam memanfaatkan alam yang ada. “Pariwisata adalah program nasional nomor satu yang didengungkan oleh presiden Jokowi, masyarakat di semua wilayah diminta kreatif  memanfaatkan alam yang ada,” ujar Made

Lanjutnya, desa Mulyoagung merupakan desa yang tergolong memiliki view pemandangan yang bagus. Dengan banyaknya café yang sudah ada di desa ini,  akan merencanakan tentang desa Wisata Café di desa Mulyoagung. Karena cafenya dikelola oleh masyarakat sendiri. “Sudah banyak café – café yang ada di sini, sehingga ke depan bisa kita tetapkan menjadi salah satu desa wisata café,” ujar made.

Made juga berharap dengan adannya kawasan wisata ini nantinya akan semakin sejahtera. Selain itu, ia menuturkan bahwa desa ini juga bisa saja menjadi ikon dari Kota Malang jika ke depannya masyarakat mengembangkannya. Terlebih lagi ia melihat perangkat desa Mulyoagung yang sangat antusias dengan adanya kawasa wisata ini.

“Bisa saja menjadi salah satu ikon Malang, tergantung perkembangan, hal ini kan tergantung bagaimana keyakinan masyarakat untuk mengembangkan wisata ini. Apalagi kades sudah sangat antusias dengan wisata ini,” ujar dia.

Selain itu, Tomie Herwanto juga memberikan tanggapan positif dengan adanya Pan Java ini. Hal tersebut ia dasari dengan strategi Pemerintah Kabupaten Malang tentang pengembangan potensi desa untuk menurunkan angka kemiskinan, mengembangkan pariwisata dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Dari ketiga strategi tersebut, ia menuturkan bahwa pengembangan pariwisata merupakan strategi yang paling mudah untuk dijalankan oleh masyarakat desa dengan banyaknya potensi wisata alam yang bagus. “Strategi kita itu menurunkan kemiskinan, mengembangkan wisata, dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan,” ujar Tomie.

Sementara itu, Sumardi Kepala desa Mulyoagung berharap nantinya Pan Java ini tidak hanya sebagai tempat tongkrongan saja. Ia berharap nantinya tempat ini juga menjadi tempat untuk melakukan banyak hal, tentunya yang bersifat positif. “Harapan saya di tempat ini tidak hanya terkait dengan tongkrongan saja, tapi nanti mereka datang kesini juga kumpul buat belajar bareng. Saya yakin tempat ini membawa pengaruh yang sangat bagus” ujar Sumardi.

Moesanto selaku Ketua Badan Pengawas Desa Mulyoagung sangat mendukung adanya kawasan wisata Pan Java ini. Dalam hal ini ia menuturkan akan membuat peraturan desa tentang kawasan wisata. Dengan adanya tempat ini, ia berharap agar jarak antara kearifan lokal dengan budaya modern saat ini agar tidak terlalu jauh.

“Saya sangat mendukung, sebab lokasi ini menggabungkan  kearifan lokal dengan kekinian, supaya match, sehingga jarak lokal dan milenial itu tidak terlalu jauh. Kita tidak  bisa menghilangkan  itu, tapi jangan terlalu jauh,” ujar Muesanto.


End of content

No more pages to load