Petugas tengah melakukan proses donor di kantor UTD PMI Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Petugas tengah melakukan proses donor di kantor UTD PMI Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



Naiknya angka penderita demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Kota Malang diantisipasi oleh Palang Merah Indonesia (PMI). PMI Kota Malang menjamin stok darah khususnya trombosit mencukupi. Selain itu, pasokan maupun permintaan darah hingga awal Februari 2019 ini masih dinilai stabil.

Kepala Unit Transfusi Darah PMI Kota Malang Enny Sekarrengganingati mengungkapkan bahwa stok darah yang disimpan saat ini mencukupi kebutuhan masyarakat. 

"Belum ada kenaikan permintaan yang signifikan. Selain itu, stoknya Insyaallah aman," kata Enny. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, jumlah penderita DBD di kota pendidikan selama Januari mencapai 52 kasus. 

Selama ini, lanjut Enny, pihak PMI sudah mengantisipasi kemungkinan lonjakan permintaan darah di awal musim penghujan. Pasalnya, ada siklus tahunan peningkatan kasus DBD di awal dan akhir musim penghujan. 

"Setiap tahun kan memang (DBD) muncul di awal musim hujan. Selama ini kalau yang tidak terpenuhi itu karena kecocokan golongan darah. Darah kan sifatnya begitu, terkadang ada yang tidak cocok," paparnya. 

Mantan Kadinkes Kota Malang itu menyebut, masyarakat tak usah cemas dengan berbagai pemberitaan hoax di media sosial. Beberapa waktu yang lalu, sempat beredar informasi berantai di media sosial yang menyatakan bahwa stok darah khususnya trombosit di PMI Kota Malang langka.

Enny menegaskan bahwa informasi tersebut tidaklah benar. Yang benar, petugas membutuhkan waktu untuk memproses trombosit yang diminta masyarakat. Yakni dengan melakukan pemisahan dari darah lengkap yang tersimpan. 

"Cadangan darah kami cukup. Tetapi untuk trombosit sebelum diberikan pada pasien kan membutuhkan proses yang cukup lama, tidak bisa langsung dari pendonor diberikan," ungkapnya.

Setelah darah didapatkan dari pendonor, lanjut Enny, PMI masih harus melakukan rangkaian proses mulai dari screening penyakit. Setelah itu, baru dilakukan pemisahan sel darah merah (trombosit), sel darah putih (leukosit) dan plasma darah. 

"Prosesnya butuh waktu sekitar 6-8 jam. Kalau pasien mintanya pagi hari, misalnya, kami baru bisa mencukupi sore harinya. Bukan berarti stok tidak ada, tetapi butuh proses," tuturnya.

Meskipun tren jumlah penderita DBD meningkat, namun Enny mengungkapkan jika permintaan trombosit selama Desember 2018 hingga Januari 2019 justru menurun sekitar 8 persen. "Permintaan trombosit pada kita menurun. Tetapi tidak bisa diprediksi untuk jenis golongan darah apa yang paling banyak permintaannya," pungkas Enny.


End of content

No more pages to load