Wisata edukasi Omah Jenang Kelapa Sari.(Foto : Team BlitarTIMES)

Wisata edukasi Omah Jenang Kelapa Sari.(Foto : Team BlitarTIMES)



Jenang, siapa tak kenal dengan makanan khas Jawa yang satu ini? Eksistensi jenang dalam kultur masyarakat Jawa sudah melekat erat sejak zaman Hindu-Budha. Bahkan, seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern seperti sekarang, jajanan yang satu ini tetap eksis dan lestari dalam tradisi masyarakat Jawa.

Dalam acara-acara hajatan, jenang menjadi piranti wajib yang harus ada dalam prosesi lamaran atau pernikahan. Menurut filosofinya, jenang dipercaya dapat mempererat hubungan antara kedua calon pengantin. Jenang lamaran juga menjadi simbol komitmen pasangan untuk menjalin hubungan yang lebih serius.

Seiring berkembangnya zaman, eksistensi jenang tak hanya disajikan ketika ada hajatan besar. Masyarakat mulai memasaknya untuk keperluan konsumsi sehari-hari, seperti sajian untuk tamu. Hingga dijadikan oleh-oleh atau buah tangan.

Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap makanan khas yang satu ini menjadi berkah tersendiri bagi Yuyun Setiawati (36), warga Jalan Masjid Nomor 46, Rejowinangun, Kademangan, Blitar. Ia adalah owner rumah produksi bernama Omah Jenang Kelapa Sari.

“Awalnya turun temurun dari bapak, jadi sejak 1985 sudah produksi jenang. Awalnya dulu sering dipeseni jenang buat hajatan itu, terus lama kelamaan semakin dikembangkan bikin oleh-oleh, dibungkusi kecil-kecil,” ungkap Yuyun pada BLITARTIMES, Senin (4/2/2019).

Berawal dari usaha turun temurun yang diawali oleh ayahnya sejak 1985, Yuyun terus mengembangkan berbagai inovasi dan kreasi produksi jajanan khas tersebut. Hingga berkembang ke arah wisata edukasi, yang mengusung konsep belajar tata cara pembuatan jenang sejak tahun 2016 yang lalu.

“Jadi ngembangkan edukasi itu awalnya yang pesan jenang agak berkurang peminatnya. Soalnya generasi sekarang kadang cuman buat syarat aja, jadi pesennya cuman 10 Kg samapi 30 Kg. kalo dulu kan bisa 1 kwintal bahkan 4 kwintal,” jawabnya.

Uniknya, selain wisatawan bisa berbelanja jenang dan berbagai olahan jajanan, pengunjung juga dapat mempelajari seluk-beluk, filosofi, hingga cara membuat jenang. Rumah ini dikenal menjadi tempat wisata edukasi dan juga pusat oleh-oleh jananan khas Blitar.

Wisatawan yang berminat untuk belajar membuat jenang bisa diajari cara mengolah jenang, cara memasarkan, hingga cara mengatur manajemennya. Pengunjung bisa mencoba cara memasak dan merasakan sensasi mengaduk jenang. Mereka diperkenankan masuk ke dapur pembuatannya. Di dapur itu, terdapat tungku besar yang bernama jedi.

Satu jedi dapat menampung 100-125 biji kelapa, 30 kilogram ketan, dan 30 kilogram gula kelapa. Semua komponen itu terus-terusan diaduk supaya lembek dan lengket. Proses pengadukannya kira-kira 7 jam.

“Setiap hari kami memasak jenang paling tidak ya untuk pasokan sehari-hari biasanya kita masak 1 kwintal,” sambungnya.

Berkat ketekunan dan keuletannya meneruskan usaha yang dirintis turun temurun sejak puluhan tahun yang lalu ini, omsetnya pun tak tanggung-tanggung. Setiap bulannya tak kurang dari Rp 40 juta hingga Rp 50 juta bisa ia kumpulkan.

Saat ini, pemasaran jajanan khas milik Yuyun seperti, jenang, wajik gletik, geti dan aneka jajanan lainnya telah memenuhi pesanan dari berbagai pusat oleh-oleh di Blitar dan sekitarnya. Bahkan, setiap bulannya ia juga memenuhi permintaan dari pasar luar negeri.

“Untuk pemasarannya kita ke pusat oleh-oleh di Blitar dan sekitarnya, Kediri Tulungagung, Malang. Ini setiap bulan sekali kita juga kirim ke luar negeri, ini tadi dari baru saja kirim buat pesanan ke Hongkong,” pungkasnya.(*)


End of content

No more pages to load