Ilustrasi.(Foto : Satu Jam)

Ilustrasi.(Foto : Satu Jam)


Pewarta


Kehidupan … dan alam memberikan banyak sesuatu kepada manusia, salah satunya adalah keindahan beraneka ragam makhluk di dunia ini yang mempunyai keuntungan dan keterkaitan satu dengan yang lainnya. Sehingga manusia memberdayakan, menggunakan alam sebaik mungkin agar hasil dari alam tersebut menuai keuntungan banyak untuk manusianya.

Contoh, persawahan yang dahulu digarap menggunakan tenaga dari sapi atau kerbau dengan bantuan manusia, kemudian kini seiring perkembangan di jaman modern tenaga sapi dengan bantuan manusia sudah tidak digunakan lagi dan diganti dengan mesin pembajak tetap dengan tenaga manusia namun cenderung lebih praktis serta memudahkan petani dalam menggarap sawah. Tentunya hasil yang didapat jauh lebih banyak dan memuaskan. Zaman modern membentuk zaman baru sehingga memutus tradisional.

Beralih ke teknologi digital seperti handphone, telepon, maupun computer/laptop yang biasa kita gunakan.

Orang sekarang sudah mulai menggunakan handphone atau telepon sebagai sarana komunikasi praktis dan secara tidak langsung telah menggeser surat, telegram, ataupun sejenisnya yang sempat popular pada jamannya sehingga surat-menyurat sekarang jarang digunakan.

Berdampak baik pada penggunaan kertas yang semakin minim sekarang dikarenakan kertas sendiri berasal dari pohon.

Serta mesin ketik kini juga telah jarang dan hampir tidak pernah digunakan karena adanya computer yang lebih canggih berkali-kali lipat dibanding mesin ketik.

Sehingga komunikasi, akses pekerjaan kantor dan sejenisnya termudahkan oleh kecanggihan teknologi buatan manusia.

Begitu juga dengan dunia transportasi, dulu kereta kuda, sapi, atau kerbau belasan tahun bahkan berpuluh tahun difungsikan sarana transportasi antar kota dan daerah, kini digantikan dengan kereta api, bis, maupun pesawat terbang yang sehingga antar kota bisa ditempuh hanya seharmal.

Serta dibangunnya pabrik-pabrik yang sekarang mulai dibangun di desa-desa atau di perkampungan yang menimbulkan masyarakat lebih memilih bekerja di pabrik daripada di persawahan.

Namun berdampak juga dengan meningkatnya polusi udara dan minimnya area persawahan maupun hutan di pedesaan yang tergerus akan modernisasi. Tenaga-tenaga alam mulai diubah manusia untuk diabdikan pada dirinya.

Manusia sudah tak lagi membanting tulang, memeras keringat dengan hasil sedikit. Tenaga mesin, teknologi canggih akan menggantikan semua dan manusia tinggal bersenang-senang dengan pekerjaannya. Itu dampak postif yang bisa diambil jika manusia juga mampu memberdayakan alam, memperbaiki setelah menggunakannya.

Itu saja jika mampu, jika tidak alam akan rusak oleh tangan-tangan genit manusia yang menggunakan tanpa memperbaiki kembali.

Menyebabkan  alam kemudian marah hingga pada akhirnya bencana alam lah yang timbul seperti tanah longsor, banjir bandang, kebakaran hutan, pemanasan global, efek rumah kaca yang diakibatkan penggunaan hutan secara berlebihan tanpa memperbaiki/mereboisasi, dan asap-asap pabrik mengepul bebas diudara.

Modern sangat cepat berkembang biak, segala macam pekerjaan dapat diperbanyak sepuluh ribu bahkan lebih setiap harinya.

Memberikan arus perubahan maha dahsyat untuk Negara maju maupun Negara berkembang seperti Indonesia. Tentunya semua ini tak lepas dari dampak dari jaman modern dengan kecanggihan teknologinya yang memberi kepuasan.

Dampak negative secara alam sudah terbahas jelas diatas, dampak positifnya kita dapat mengakses transportasi dan komunikasi sangat mudah, namun tak disadari dampak negatifnya menjadi momok tersendiri untuk pribadi maupun social. Tak jauh-jauh manusia dirugikan dengan kerusakan mental, manusia yang katanya “Modern” ini justru tak menghiraukan atau mengontrol efek sampingnya, yaitu rusaknya aspek lingkungan dan moralitas yang secara perlahan menggerogoti manusia modern tersebut.

Seperti jaringan narkoba, pelecehan seksual, inilah manusia yang sudah kehilangan jati dirinya, rusaknya moral mulai dari anak-anak hingga orang tua. Mengakibatkan pergeseran-pergeseran norma-norma yang ada.

Berkaitan dengan perkembangan jaman modern ini manusia rata-rata mungkin banyak atau sedikit sekarang cenderung mengesampingkan rohaniah, sehingga bisa disebut “Miskin Rohani” dalam pribadi manusianya sendiri. Karena sibuknya kepada kemajuan materi telah menyingkirkan atau kurang respect supra empirisnya.

Masalah-masalah pribadi dan social bermacam ragam menghantui manusia atau masyarakat yang kurang mengetahui akan dampaknya. Salah satunya  adalah kerusakan penyimpangan moral menjadi mahligai yang perlahan menjadi tidak tabu dalam kalangan masyarakat kita khususnya.

Tidak tabu seperti halnya pembunuhan berantai/berencana, pelecehan seksual terhadap anak kecil khususnya, akses jual beli narkoba, bayi, dan perempuan terjadi dimana-mana.  Selain itu hubungan antar individu semakin jauh. Ini sangat terlihat dari anak-anak remaja bahkan anak kecil sekalipun menjadi pasif mengalami ketegangan fisik dan psikis, sehingga bisa jadi menimbulkan ketidak harmonisan dalam keluarga karena cenderung individualistis atau acuh tak acuh.

Sejatinya modern ini mampu merubah manusia dengan nalar rasionalitasnya mempunyai etika estetis, sehingga kerusakan-kerusakan moral maupun lingkungan yang terjadi di sekitar kita bahkan di dunia para intelek dan para pejabat, petinggi-petinggi itu tak akan mungkin terjadi.

Tugas-tugas etis manusia dikaitkan dengan kedudukannya sebagai warga Negara. Tujuan hidup manusia ialah eudaimonia atau hidup yang baik (Sokrates). Agar supaya manusia dapat hidup baik ia harus mendapat pendidikan, akan tetapi pendidikan itu baru dapat tercapai jikalau ada Negara yang baik, sebab manusia adalah makhluk social yang memerlukan Negara. Jika yang berpengetahuan dan berpendidikan itu yang sesungguhnya memiliki kerasionalitasannya, pemikirannya yang terukur dengan memiliki pengetahuan, pendidikan yang ada serta memiliki empirisme kuat bahwa yang dilakukan itu berdampak negative atau positif dan tetapi malah-malah kepintarannya disalah gunakan, pada akhirnya menjadi cambuk neraka bagi dirinya dan orang lain apakah itu yang disebut manusia “modern”? perlu dipertimbangkan.

Seperti halnya korupsi yang terjadi pada petinggi atau siapapun yang disebut sebagai Dewa Agung, telah mengabaikan kepentingan social demi kepentingan pribadi, merajalelanya nafsu-nafsu yang tidak teratur. Kerusakan moral, lingkungan pada zaman yang semakin modern ini menjadi persoalan pokok didalam Negara yang ialah keselamatan para orang yang diperintah, bukan keselamatan para orang yang memerintah.

Tentunya yang memerintah harus mempersembahkan hidup mereka bagi pemerintahan, dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri.

Ketika sebuah ketabuan menjadi tidak tabu dalam pandangan mata setiap individu, kini menjadi sebuah metamorfosa utuh kupu-kupu menjadi kepompong, Kebebasan, kemerdekaan jiwa lepas tergantung diatas langit mega yang padam haus akan sebuah kenikmatan duniawi yang bersifat sementara. Lalu siapa yang disalahkan? Kesadaran diri akan dampak-dampak dari perkembangan teknologi yang semakin canggihlah yang dapat menolong kita dari penyimpangan-penyimpangan yang ada.

Perlukah pemerintah memberikan sosialisasi tentang dampak kehidupan modern saat ini? Itu yang perlu dipertimbangkan, khususnya pada penduduk pribumi yang minimnya pendidikan agar tak menjadi “Korban Modernisme”.

(Penulis Nirmala Puspa, S.Sn, Seniman Teater dan Pegiat Seni Budaya)

Tag's Berita

End of content

No more pages to load