Hamparan luas perkebunan buah apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

Hamparan luas perkebunan buah apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)


Editor

Heryanto


Perwakilan Kelompok Tani di Kota Batu bakal diajak ke Fukusima, Jepang. Mereka ke sana untuk belajar sistem pertanian yang maju di Jepang.

Rencana itu dilakukan karena banyaknya produk pertanian Kota Batu berpeluang untuk diekspor seperti kentang, apel, dan bunga mawar. 

“Beberapa produk pertanian Kota Batu seperti kentang, apel, dan bunga mawar sudah layak untuk diekspor. Tapi tentunya ada standartnya,” ungkap Wakil Wali Kota Bati Punjul Santoso.

Karena itu untuk mengetahui cara standart itu lanjut Punjul, para petani harus mengetahui cara pengelolaan yang baik dan benar dalam proses sistem penanamannya. 

Tidak hanya itu saja, tetapi hingga cara pengemasannya.

“Para perwakilan kelompok tani dibawa ke sana supaya tahu dan punya gambaran. Sehingga tidak hanya sekadar membayangkan saja dan bisa diaplikasikan di lahannya,” imbuhnya Rabu (30/1/2019).

Terpisah petani apel Dusun Gerdu Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji, Utomo menambahkan jika para kelompok tani diajak ke Jepang untuk mempelajari pertanian di sana, tentunya itu sangat bagus. 

Agar nantinya petani bisa mendapatkan ilmu, sehingga bisa diaplikasikan di Kota Batu. 

“Kalau untuk belajar di Jepang sangat bagus agar tehnologinya bisa diaplikasikan petani ke sini biar meniru,” kata Utomo kepada MalangTIMES. 

Dengan demikian agar pertanian di Kota Batu itu bisa maju. 

Hanya saja, persaingan harga dari luar daerah itu itulah yang menjadi kendala seperti saat ini.

“Memang ada baiknya jika kita diajak untuk study banding. Tetapi pemerintah juga harus memikirkan harga ditingkat petani meskipun nantinya ada rencana ekspor,” tutupnya.


End of content

No more pages to load