Plafon Pasar Tunjungan yang sudah jebol dan bocor ketika hujan.
Plafon Pasar Tunjungan yang sudah jebol dan bocor ketika hujan.

Kesabaran para pedagang di Pasar Tunjungan rupanya sudah habis. Maka kali ini tidak ada cara lain selain lewat jalur hukum. Yaitu, dengan menggugat Pemkot Surabaya.

Pasar Tunjungan memang merupakan pasar tradisional yang dikelola oleh PD Pasar Surya. PD Pasar Surya ini adalah badan usaha milik daerah (BUMD) Pemkot Surabaya.

Wakil Ketua Perkumpulan Pedagang Pasar Tunjungan (P3t) Jalil Hakim mengaku sebenarnya sudah lima kali berkirim surat ke Pemkot Surabaya. Tujuannya melakukan audiensi dengan wali kota. Namun, hingga saat ini surat tersebut belum mendapatkan respons.

 Dia ingin melakukan audiensi dengan wali kota untuk menagih janji terhadap pedagang kecil. Yakni untuk segera melakukan revitalisasi di Pasar Tujungan. Sebab, sudah kesepakatan sebelumnya di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) tahun 2016 silam.

“Dulu kami pernah melakukan gugatan. Tapi di tengah persidangan sudah ada kesepakatan bahwa pasar akan direvitalisasi. Nyatanya hingga saat ini cuma janji,” lanjutnya.

 Karena kesepakatan tersebut tidak direspon maka dia beserta pedagang lainnya bakal melakukan gugatan kembali ke Pemkot Surabaya. Kini berkas sedang disusun dan akan segera dikirim ke pengadilan. “Pemkot Surabaya melawan hukum,” bebernya.

Menurut Jalil, kondisi pasar sudah sangat memprihatinkan. Jika hujan, maka air akan merembes dari lantai tiga hingga lantai satu. Penataan kabel listrik juga sudah tidak karuan. “Hampir mirip dengan rumah hantulah,” ucapnya.

 Kondisi itu, menurut dia, sangat kontras dengan perwajahan di Surabaya yang selama ini terkenal dengan kota seribu taman dan seribu bunga. “Perlu dilihat juga ternyata ada pasar tradisional yang hampir mati. Berbeda jauh dengan pasar modern di sebelahnya,” kata dia.

 Jalil pun menyinggung tentang penghargaan yang baru didapat Kota Surabaya dengan Ghuangzhou Award-nya di tahun 2018. Ternyata di satu sisi ada pasar tradisional di pusat kota yang tidak ditata bahkan cenderung sengaja diabaikan.

Jalil berharap agar pemkot bisa serius dalam menghidupi pasar tradisional ini. Meskipun sudah era digital, dia percaya masih banyak pelanggan fanatik yang tetap mengutamakan datang langsung ke pasar untuk belanja. “Tapi kalau kondisinya begini. Siapa yang mau datang,” imbuhnya.