Petugas gabungan dari Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari serta beberapa instansi terkait saat memantau kondisi kambing di Lembah Savera Ranch, Kabupaten Malang (Foto : Istimewa)
Petugas gabungan dari Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari serta beberapa instansi terkait saat memantau kondisi kambing di Lembah Savera Ranch, Kabupaten Malang (Foto : Istimewa)

Masyarakat Kabupaten Malang patut berbangga dengan sederet potensi yang ada saat ini. Selain keindahan dan kekayaan alam yang tersebar di beberapa wilayah, daerah yang mempunyai slogan The Heart of East Java ini juga memiliki potensi unggul dibidang peternakan.

Salah satunya dalam mengelola hewan ternak kambing. Hingga saat ini, tercatat ada ratusan ribu populasi kambing yang tersebar di beberapa wilayah. Capaian ini membuat Kabupaten Malang menjadi “kiblat” peternak kambing di Jawa Timur.

Hingga saat ini, Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk memajukan sektor peternakan kambing. Salah satunya dengan melakukan Inseminasi Buatan (IB). Seperti yang diselenggarakan di Peternakan kambing Lembah Savera Ranch di Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, dan di Kecamatan Turen, Rabu (23/1/2019).

“Kegiatan ini sebagai upaya mengembangkan peternakan terutama dalam sektor kambing. Tim gabungan dari berbagai instansi terkait, juga menyosialisasikan kepada masyarakat terkait IB,“ kata Camat Turen Mumuk Hadi Martono, sekaligus pemilik Lembah Savera Ranch, saat ditemui awak media disela sela agenda penyuluhan.

Mumuk menerangkan, hingga saat ini pihaknya sudah mengelola sedikitnya 50 ekor kambing. Jenisnya pun beragam, diantaranya jenis kambing senduro, kambing sembowo, kambing PE dan kambing savera.

“Di tempat peternakan yang kami kelola ini, bisa memproduksi sebanyak 8 liter susu dalam satu hari dari sekitar 12 ekor kambing perah,” imbuh Mumuk. Dalam agenda kali ini turut melibatkan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari dan Dinas Peternakan Kabupaten Malang.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BBIB Singosari Drh Enniek Herwijanti menekankan, jika tahap IB memang memerlukan inseminator (kawin suntik) yang memadai. “Selain membutuhkan peralatan dan teknologi penunjang, para peternak yang hendak melakukan IB kepada peliharaannya juga harus dibekali pelatihan minimal selama 10 hari,” terang Enniek.

Enniek menambahkan, sistim pembuahan yang menerapkan metode IB, memang memiliki beberapa keunggulan. Diantaranya mutu genetik kambing IB, lebih bagus jika dibandingkan pembuahan secara alami. Hal ini dikarenakan sperma pejantan yang digunakan memiliki kualitas yang mumpuni. Sehingga tidak heran jika keturunan yang dihasilkan, dapat melahirkan kambing yang berkualitas.

“Hasilnya relatif bagus, bisa mencapai 60 persen Conception Rate (persentase kambing betina yang bunting pada perkawinan pertama). Rata-rata induk kambing bisa melahirkan kembar, sehingga dapat melahirkan sekitar 3 ekor kambing. Selain itu proses buntingnya juga terbilang relatif singkat, yakni hanya lima bulan. Proses kawin melalui IB ini bisa diterapkan ke semua jenis kambing,” jelas Enniek.

Meski terbilang mengguntungkan, namun peternak juga memerlukan modal yang terbilang cukup tinggi. Yakni sekitar Rp 7 ribu, untuk satu dosis semen (sperma). “Meski memerlukan tambahan biaya, namun hasilnya sebanding dengan keuntungan yang bakal diterima,” tutur Enniek.

Ditemui disaat bersamaan, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang, Nurcahyo mengatakan jika saat ini, Kabupaten Malang memang menjadi rujukan dalam sektor peternakan kambing.

“Saat ini Kabupaten Malang dianggap sebagai sentra kambing terbaik di Jawa Timur. Kini populasi kambing tercatat mencapai sekitar 253 ribu ekor," kata Nurcahyo.

Nurcahyo berharap, dengan gagasan semacam ini, nantinya IB bisa semakin meningkatkan potensi ternak kambing di Kabupaten Malang. “Sejauh ini penerapan IB terbilang masih jarang. Untuk itu langkah sosialisasi dan penyuluhan kami lakukan sebagai upaya awal untuk memajukan ternak kambing di wilayah Kabupaten Malang,” pungkasnya.