Ilustrasi, bisnis kopi menjadi primadona kalangan pengusaha muda di Kota Malang beberapa waktu terakhir. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Ilustrasi, bisnis kopi menjadi primadona kalangan pengusaha muda di Kota Malang beberapa waktu terakhir. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Pemerintah Kota (Pemkot) Malang memupuk ambisi warganya untuk menjadi pengusaha pemula. Melalui Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang, pemkot bakal meluncurkan program klinik bisnis mobile. Klinik itu bakal membedah tips-tips bisnis agar usaha yang dibuat tidak gagal di tengah jalan. 

Rencananya, program tersebut ditujukan bagi para pelaku usaha pemula yang ingin membuka bisnis. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang Tri Widyani Pangestuti mengatakan, rata-rata kegagalan bisnis rintisan anak-anak muda adalah karena kurangnya pendampingan. "Mereka asal bikin saja, tanpa mempelajari strategi memikat pasar, manajerial, dan lain-lain," tuturnya. 

Dia menjelaskan, klinik tersebut berfungsi untuk memberikan pemberdayaan dan pendampingan bagi para pelaku usaha baru. Dia mengungkapkan, hadirnya klinik tersebut pun memberikan dampak yang luar biasa. "Setiap bulan peningkatan luar biasa, karena benar-benar didampingi. Saat ada problem, ada pakar-pakar atau pelaku senior untuk konsultasi," kata Yani, sapaan akrabnya. 

Selama satu tahun terakhir, lanjut Yani, pihaknya telah membuka klinik bisnis. Hanya saja, klinik tersebut masih berada di kantor. Namun menyambut era digitalisasi dan revolusi industri 4.0, pihaknya akan segera meluncurkan klinik versi mobile.  "Setahun ini sudah jalan, luar biasa dampaknya. Kami di kantor klinik bisnis rutin seminggu dua kali," ujarnya. 

Melihat hal itu, Wali Kota Malang Sutiaji pun merencanakan untuk membuka klinik bisnis secara mobile. "Jadi kami jemput bola bagi usaha mikro yang tempatnya kurang terjangkau dari mentor yang sudah kami berikan pendampingan," papar Pak Aji, sapaan akrabnya. 

Sistemnya, pihaknya akan membawa tim ke kelurahan-kelurahan. "Nanti kalau di situ ada teman (pelaku) usaha mikro yang ingin memanfaatkan, bisa difasilitasi melakukan pendampingan," terang pria yang juga pengurus PCNU Kota Malang itu.

Menurutnya, yang masih menjadi kendala pelaku usaha pemula selama ini yakni terkait penentuan harga produk. Pihaknya pun juga akan menggandeng pelaku usaha yang sudah berhasil untuk memberikan pendampingan tersebut. "Ternyata para usaha pemula untuk menentukan harga masih bingung. BEP berapa, harga berapa, ada teorinya, tidak asal main pukul (mematok harga)," pungkasnya.