KH. Zahid Syafi’i .(Ist)

KH. Zahid Syafi’i .(Ist)


Editor

Heryanto


Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Blitar  1

KH. Zahid Syafi'I adalah pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Muta'alimin As-Salafi (1951-1981). Beliau adalah pengurus Pondok Pesantren Bustanul Muta'alimin generasi ke-3. 

Pondok Pesantren Bustanul Muta'allimin merupakan salah satu pondok tertua di Kota Blitar. 

Pondok pesantren ini terletak di lingkungan Dawuhan, Kelurahan Kauman, Keamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.

Pondok yang terkenal dengan sebutan Pondok Dawuhan ini awalnya dirintis dan didirikan oleh KH. Abu Hasan pada tahun 1873. 

Kemudian diteruskan oleh salah satu putranya yaitu KH Nu'man Syafi'I 1918-1951, kemudian mencapai masa kejayaan pada kepemimpinan KH. Zahid Syafi'i.

“Ya tahun 1800-an itu memang sudah ada pesantren ini cikal bakalnya, cuman besarnya pesantren ini ya pada eranya Mbah Kiai Zahid Syafi'I,” ungkap KH Mukhtar Lubby cucu dari KH Zahid Syafi'I salah satu pengurus Pondok Pesantren Bustanul Muta'alimin As-Salafi, Jumat (18/1/2019).

KH. Zahid Syafi'I merupakan seorang ulama kharismatik di Kota Blitar. Sifatnya terkenal memiliki sifat yang santun dan zuhud dalam menjalani hidup sehari-hari. 

Semasa mudanya beliau malang melintang menimba ilmu dibeberapa pondok pesantren, salah satunya yang terlama beliau pernah mondok di Mojosari Nganjuk. 

Beliau banyak belajar pada Kiai Zainudin Mojosari bersama temannya satu angkatan yaitu KH Wahab Khasbullah Jombang yang juga merupakan salah satu pahlawan nasional.

Dalam menjalakan dakwahnya, KH. Zahid Syafi'i mungkin tidak setenar Kiai-kiai dan ulama kondang lainnya. 

Akan tetapi beliau memiliki ciri khas kesantunan dan kezuhudan yang sampai saat ini masih diteladani oleh santri-santrinya.

Mengingat Pondok Pesantren Bustanul Muta'alimin merupakan pondok di tengah-tengah kota tentu pengaruh-pengaruh modernisasi akan sangat cepat masuk dan mempengaruhi lingkungan pondok. 

Tetapi dengan tradisi zuhud yang diajarkan KH Zahid Syafi'i secara turun temurun sampai sekarang Pondok Dawuhan masih eksis sebagai salah satu pondok pesantren salaf di tengah hingar-bingar suasana perkotaan.  

"KH Zahid Syafi'i itu kan kakek saya, beliau wafat saat saya masih usia 4 tahun, jadi kurang tau persis. Tapi menurut cerita ini dari cucunya Pondok Mojosari tempatnya mondok dulu itu ada cerita, beliau itu kalau di pondok dulu suka nukang, salah satunya yaitu yang dibangun dulunya adalah musolla. Nah mushollanya itu salah satu dari kayu yang jadi blandarnya itu panjang kayunya gak nyampek, akhirnya konon katanya kayu itu ditarik sehingga sampai sekarang panjangnya pun ganjil, dalam artian lebih panjang," ujar Gus Lubby.

Di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia KH. Zahid merupakan salah satu tokoh yang sangat dicari oleh belanda dan juga sekutu, kuatnya pengaruh KH Zahid sangat ditakuti oleh pihak belanda, terutama pada masa-masa Agresi Militer Belanda.

“Mbah Kiai Zahid saat itu orang sini pada gak tau larinya kemana, cuman pada waktu resolusi jihad itu Mbah Kiai juga tidak ada di rumah. Menurut cerita keluarga Mbah Kiai Zahid waktu itu gak ada dirumah, karena di sini waktu itu juga tidak aman, keluarga pada ngungsi, tapi anehnya Mbah juga tidak ikut ngungsi. Kemungkinan besar, karena beliau juga teman dekatnya KH Wahab Chasbullah jadi kemungkinan besar beliau ikut membantu perang resolusi jihad waktu itu,” ungkap Gus Lubby.

Menurut cerita para sesepuh, KH Zahid Syafi'i merupakan pejuang dibalik layar. 

Dimasa penjajahan Belanda beliau merupakan salah satu anggota Konstituante (jabatan setingkat DPR di masa kolonial) yang banyak berjasa dalam membela hak-hak pribumi dan rakyat Blitar saat itu. 

Selain itu, karena kedekatannya dengan KH. Wahab Khasbullah beliau sedikit banyak ikut memberikan sumbangsih pemikiran dan juga tenaganya dalam resolusi jihad dan juga perjuangan merebut kembali kemerdekaan Indonesia.

“Mbah Kiai Zahid dulu itu pernah jadi anggota konstituante, kalau sekarang DPR, Terus beliau juga pernah jadi hakim agama. Konstituante itu kan sekitar tahun 1950-anterus kan dibubarkan oleh Bung Karno pada waktu Dekret Presiden tahun 1955 itu,” jelas Gus Lubby.

Selain itu, KH. Zahid Syafi'I juga merupakan salah satu pendiri sekaligus yang mengenalkan Organisasi Nahdlatul Ulama di Kota Blitar. 

Pada tahun 1951 KH. Zahid mengenalkan NU kepada masyarakat sekaligus menjadi ketua yang pertama di Kota Blitar. 

Kiprahnya dalam dunia dakwah masih bisa kita temui saat ini, yaitu pengajian ahad wage di Masjid Agung Kota Blitar.

Bersama dengan KH. Yasin Yusuf Kademangan, beliau memberikan ceramah agama yang dihadiri ribuan masyarakat Blitar dan sekitarnya.

Kiprahnya di pesantren, Gus Lubby menggambarkan bahwa KH. Zahid Syafi'i merupakan orang yang penuh dengan kesabaran dan tlaten mengajari santri-santrinya. 

Selain itu sifatnya yang zuhud penuh dengan kesederhanaan menjalani hidup. Hingga dalam memberikan pejaran dan pemahaman ilmu agama juga mengajarkan dengan contoh-contoh sederhana dan tidak menggunakan Bahasa yang tinggi. Selalu memberikan contoh sederhana tetapi penuh dengan makna perjuangan dan kezuhudan yang saat ini banyak dikenang masyarakat.(*)

Tag's Berita

End of content

No more pages to load