Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko saat memberi sambutan dalam agenda pemerintahan di Graha Pancasila, Balaikota Among Tani, Kota Batu. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko saat memberi sambutan dalam agenda pemerintahan di Graha Pancasila, Balaikota Among Tani, Kota Batu. (Foto: Dokumen MalangTIMES)



Pertumbuhan ekonomi di Kota Wisata Batu (KWB) melejit manis melewati rata-rata wilayah Malang Raya dalam kurun tiga tahun terakhir. Bahkan, menjadi yang tertinggi di Jawa Timur. Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko optimis pada 2019 ini pihaknya mampu mempertahankan tren positif tersebut.

Berdasarkan data yang terangkum dalam Statistik Daerah Kota Batu 2018, pada 2017 lalu pertumbuhan ekonomi tercatat di angka 6,56 persen. Sementara rata-rata wilayah Malang Raya di angka 5,57 persen pada periode yang sama. Angka itu juga jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,07 persen maupun Jawa Timur sebesar 5,45 persen. 

"Insha Allah pertumbuhan ekonomi akan naik lagi. Tahun 2017 lalu, kita mempunyai pertumbuhan ekonomi tertinggi sampai 6,5 persen," ujar Dewanti. Menurutnya, angka itu menjadi standar yang akan dipertahankan. Dia optimis meski perekonomian global masih cenderung fluktuatif dan berpengaruh pada perekonomian nasional. 

ewanti menguraikan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, pertumbuhan ekonomi di Kota Batu menjadi yang paling tinggi. Kota berjuluk Little Switzerland itu juga masih menjadi primadona investasi dan diburu oleh para pelaku usaha wisata untuk menanamkan sahamnya. "Paling tidak itu dipertahankan. Kami yang paling tinggi, sementara di nasional 5,5 persen," ujarnya. 

Menurutnya, ada beberapa faktor pendukung yang membuat perekonomian Kota Batu bertahan. "Dengan melihat pengunjung dan wisatawan luar biasa seperti ini, semoga bagus. Ditambah desa-desa punya banyak inovasi yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi," terangnya.

Meski demikian, Dewanti menyebut masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan Pemkot Batu. "Yang paling banyak harus dilakukan adalah menaikkan value hasil pertanian, seperti stroberi. Kalau hanya dijual mentah nilainya kecil. Tetapi kalau diolah jadi jus, jadi selai itu value-nya akan naik dan bagus itu yang akan ditingkatkan," pungkasnya. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu tercatat PDRB Kota Batu terus meningkat dalam kurun tiga tahun terakhir. Pada 2015 senilai Rp 11,5 miliar, 2016 Rp 12,9 miliar, dan 2017 Rp 14,3 miliar. Pendapatan per kapita juga naik dari Rp 57,4 juta pada 2015 menjadi Rp 70,3 juta pada 2017 lalu. 


End of content

No more pages to load