Rektor Untag Andang Subahariyanto memberikan Cinderamata kepada salah satu narasumber dalam saat membuka seminar

Rektor Untag Andang Subahariyanto memberikan Cinderamata kepada salah satu narasumber dalam saat membuka seminar



 Sejumlah kesuksesan yang terjadi di zaman orde memang harus diakui. Namun ada sisi lain yang harus diketahui masyarakat khususnya kalangan muda. Agar kalangan muda memiliki perspektif untuk menjadi bahan pembelajaran. 

Inilah yang dikupas dalam seminar nasional ‘Melawan Lupa “Membaca jejak KKN orde Baru”’. Seminar ini digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untag 1945 Banyuwangi Jumat (11/1/19). Seminar ini menghadirkan Dr. Ikhwan Setiawan S.s, MA, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember; Dr. Oce Madril, SH. MA., Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi UGM; dan M. Il Badri, S.S, M.Hum, Dosen Sejarah Agraria Untag 1945 Banyuwangi.

Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Andang Subahariyanto, menyatakan, saat ini mulai banyak orang menawarkan gagasan yang berkaitan dengan kehebatan orde baru. Hal ini menurutnya sah saja di alam demokrasi. Namun menurutnya perlu me-refresh pandangan masyarakat terkait orde baru.

Sasaran yang paling tepat untuk hal ini, lanjutnya, adalah kalangan anak muda yakni kalangan mahasiswa. Sebab generasi yang sekarang jadi mahasiswa memang tidak pernah mengalamai situasi di masa orde baru. Karena mereka lahir pada era reformasi.

Dia menyebut, para narasumber yang dihadirkan akan memberikan gambaran tentang orde:; keahlian mereka masing-masing.  Dr. Oce Madril, kata Dia, adalah ahli tentang korupsi yang bisa melihat orde baru dari keahliannya. Dr. Ikhwan seorang ahli yang menekuni soal politik media. Dan Il Badri adalah Dosen yang menekuni soal agraria. “Karena orde baru itu luar biasa dalam menciptakan konflik-konflik agraria yang sangat masiv dan luar biasa banyaknya,” tegasnya.

Andang menyebut, seminar ini arahnya untuk memberikan wacana dan me-refresh bagi generasi yang pernah mengalami zaman orde baru. Sedangkan bagi generasi muda tujuannya untuk memberikan pencerahan.

Lebih jauh dia menjelaskan, memang ada kesuksesan pada zaman orde baru. Akan tetapi ada juga sisi yang begitu akrab dengan kekerasan, korupsi dan kolusi. Hal ini diharapkan menjadi perspektif bagi mahasiswa sekaligus sebagai bahan pembelajaran. Karena Mereka sering dengar tentang orde baru. Menurutnya, itu bukan hal baru kalau kita membaca literatur yang terbit tahun 90-an. “Sudah banyak ditulis oleh para ahli,” tegasnya.

Dia mencontohkan, isu swasembada pangan yang diklaim sebagai keberhasilan orde baru. Hal itu menurutnya memang benar. Tapi menurutnya ada konteks yang harus dibaca berkaitan bagaiamana itu dilakukan ? Apa dampak ikutannya? Bagaimana saat itu dilaksanakan? Bagaimana petani dipaksa untuk mengikuti program revolusi hijau?. “Bahwa negeri ini harus punya kemandirian pangan dan seterusnya, saya kira tidak ada yang menolak itu, tapi konteknya harus bisa dibaca dengan kritis,” pungkasnya.


End of content

No more pages to load