Makam gantung Eyang Djojodigdo atau Pesanggrahan DJojodigdan.(Foto : Team BlitarTIMES)

Makam gantung Eyang Djojodigdo atau Pesanggrahan DJojodigdan.(Foto : Team BlitarTIMES)


Editor

A Yahya


Makam gantung Eyang Djojodigdo atau Pesanggrahan DJojodigdan di telinga masyarakat Blitar tentu sudah tidak asing lagi. Keberadaan makam tua yang banyak dikaitkan dengan sosok yang memiliki ilmu ajian Pancasona yang dikuasainya. Ajian itu sering digunakan oleh orang zaman dahulu  untuk memperkuat diri dan juga sebagai pertahanan di medan perang.

Dengan ajian pancasona yang dikuasainya, konon orang tersebut akan bisa hidup kekal abadi meski kepalanya telah dipenggal sekalipun. Seorang dengan ajian ini dikatakan hanya akan mati jika tubuhnya dipisah menyeberangi sungai dan digantung agar tidak menyentuh tanah. Namun jika jasadnya menyentuh tanah, bagian-bagian tubuh tersebut akan kembali bersatu,  dan hidup kembali seperti sediakala.

“Dalam sebutan masyarakat Eyang Djojodigdo makamnya digantung, padahal sebenarnya makamnya ndak digantung. Eyang makamnya tetap di tanah. Dulu ceritanya Eyang meninggal sulit dikebumikan hidup kembali,” ungkap juru kunci makam, Ramiyati (68) kepada BLITARTIMES, Kamis, (10/1/2018).

Pada waktu itu ternyata guru dari Eyang Djojodigdo yaitu Eyang Djoego masih hidup. Akhirnya Eyang Djoego didatangkan untuk menyempurnakan jasad Eyang Djojodigdo. Setelah disempurnakan dan dikebumikan, di atas pusaranya, digantung sebuah papan berbentuk limas dengan empat payung semacam mahkota ditiap sudutnya. Di tempat inilah, konon tersimpan ilmu Pancasona, baju kebesaran dan pusaka milik Eyang Djojodigdo.

“Jabatan Eyang dulu kan Patih Blitar, jadi kayak orang keraton dulu. Jadi yang disebut makam gantung itu cuman baju kebesarannya, pusaka dan ilmunya tadi,” jelas Ramiyati.

Djojodigdo lahir di Kulon Progo, Yogyakarta pada 29 Juli 1827 dan wafat pada 11 Maret 1909. Dia lahir saat berkecamuk perang Diponegoro. Djojodigdo adalah putra dari Raden Tumenggung Kartadiwirja (Adipati Gentan Kulon Progo). Saat itu, Kartadiwirja adalah seorang pengikut setia Pangeran Diponegoro sehingga setelah Diponegoro tertangkap, beliau meletakkan jabatannya sebagai Bupati Gentan Kulon Progo yang akhirnya digantikan oleh kakaknya.

Mengutip catatan sejarah Patih Djojodigdo yang ditulis Rahadi Priyo Sembodo disebutkan, pada usia 12 tahun dia mengikuti pamannya, Bupati Ngrowo yakni RMT Notowijojo 3 di Bono Tulungagung.

Saat dewasa, dia menjadi menantu Bupati Brebes, Nganjuk yakni RMT Pringgodigdo. Dari istri pertamanya, RA Djojodigdo lahir 10 putra. Selama hidupnya, Djojodigdo mempunyai empat istri dengan anak sebanyak 32 orang.

Menurut Ramiyati saat ini diperkirakan keturunan Djojodigdo sudah sekitar 3000 orang dan tersebar diberbagai penjuru wilayah di Indonesia.

“Saya dulu masih diasuh sama putra yang ke- 32 tadi. Yang saya tau ya anak yang terakhir itu tadi, itupun beliau sudah tua saat itu, mungkin sekitar umur 75an kalau gak salah,” kenangnya.

Saat ini Ramiyati merupakan juru kunci makam ke-6 setelah wafatnya Eyang Djojodigdo. Sejak tahun 2010 lalu ia menjadi juru kunci pesanggrahan tersebut karena mendapat panggilan-panggilan gaib.

“Jadi sama Eyang yang ngasuh saya dulu saya kayak dipangil gitu malemnya. Terus lewat buyutnya Eyang itu saya disuruh jaga disini. Baru nyampek didepan itu kayak seklebatan kelihatan Eyang manggil saya,” tutupnya.(*)


End of content

No more pages to load