Salah satu ciri wanita syiah wanita syiah juga memakai ikat kepala. (Foto: youtube)

Salah satu ciri wanita syiah wanita syiah juga memakai ikat kepala. (Foto: youtube)



Kaum Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna kaum yang berkumpul atas suatu perkara.

Banyaknya saat ini kaum Syi'ah secaray fisik, sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Akan tetapi jika diteliti lebih dalam terutama dari sisi akidah, perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air.

Berikut 10 cara membedakan wanita syiah dan wanita non syiah:

1. Secara fisik tampilan mereka bisa jadi sama dengan tampilan muslimah, sama-sama menutup aurat. Tetapi pada banyak kesempatan mereka mengenakan pakaian hitam-hitam (jubah hitam dan kerudung hitam, tanpa cadar).

2. Pada beberapa acara keagamaan, selain mengenakan pakaian hitam-hitam, wanita syiah juga memakai ikat kepala bertuliskan syiar syiah. Sepintas, tulisan itu tampak biasa tetapi ternyata memiliki makna seruan doa. Misalnya: Ya Ali, Ya Husain, dan Ya Fatimah.

3. Untuk menyamarkan kata syiah, mereka menggantinya dengan ahlul bait. Sehingga wanita syiah sering nenyebut istilah ahlul bait, mengklaim diri sebagai pecinta ahlul bait. Menggemukkan pendapat ahlul bait ketika membahas persoalan agama dan menggunggulkan mazhab ahlul bait dibandingkan mazhab lainnya.

4. Menunjukkan ketidaksukaan terhadap para sahabat nabi selain Ali Bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Pada situasi yang konfusif mereka menunjukkan kebenciannya kepada para sahabat dalam bentuk mencela hingga mengkafirkan, terutama pada sahabat utama seperti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

5. Tidak mengakui Abu Bakar, Umar dan Utsman sebagai khalifah yang sah. Sebaliknya, mereka menganggap tiga khulafaur rasyidin itu sebagai pengkhianat dan perampas kekuasaan.

6. Meskipun tampilannya seperti aktifis islam, wanita syiah tidaknsyka menghadiri pengajian umat islam ablus sunnah, juga tidak suka berada di masjid ahlus sunnah.

7. Menghadiri perayaan-perayaan syiah seperti Idul Ghadir, peringatan Asyura dan sebagainya.

8. Ketika puasa ramadan, mereka tidak segera berbuka seperti umat islam tetapi menunggu beberapa saat setelah matahari terbenam hingga tampak bintang gemintang.

9. Tidak berpuasa di hari asyura. Sebaliknya, mereka tampak bersedih dengan kesedihan yang mendalam pada hati itu demi mengingat tragedi karbala. 

10. Bersedia, bahkan senang dimut’ah. Mut’ah adalah kawin kontrak untuk jangka waktu tertentu baik dalam hitungan haru, bulan, ataupun tahun.

 

Tag's Berita

End of content

No more pages to load