Stasiun Kotabaru Malang (Infobatu.blogspot)

Stasiun Kotabaru Malang (Infobatu.blogspot)



Stasiun Kotabaru memang menjadi salah satu ikon bagi Kota Malang. Stasiun itu bahkan selalu menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk sekadar berfoto.

Tapi siapa yang menyangka, ternyata stasiun yang kini semakin sibuk dengan aktivitas perjalanan di berbagai daerah di Jawa itu didesain dengan pertimbangan adanya perang. Tak heran, karena stasiun itu dibangun saat desas-desus akan adanya Perang Dunia II santer diperdengarkan.

Hal itu disampaikan pengamat sejarah dari Komunitas Jelajah Jejak Malang Mochamad Antik. Dia menyampaikan, lantaran ada desas-desus terjadinya Perang Dunia II itulah, maka Stasiun Kota Baru dirancang dengan menyesuaikan  situasi saat itu.

Bangunan stasiun tersebut rampung dikerjakan pada 1941. Bangunan bergaya Eropa modern ini bahkan merupakan satu-satunya di Indonesia yang didesain dengan pertimbangan adanya perang. Sehingga dari peron yang satu ke peron yang lain harus melewati terowongan. "Dan itu sepertinya hanya satu-satunya yang ada di Indonesia," tambahnya.

Menurut Antik, terowongan yang dibuat tersebut sebagai pelindung ketika ada serangan dari udara. Atapnya pun dibuat dari beton dengan sistem konstruksi shell dengan tebal lima sentimeter. Ini menjadi keistimewaan stasiun kereta api yang dimiliki Indonesia.

Lebih jauh Antik menyampaikan, pembuatan stasiun tersebut merupakan pengembangan dari Stasiun Kota Lama. Pengembangan dilakukan lantaran dirasa kurang menguntungkan dalam mobilitas yang berkembang saat itu.

"Pada 1927 rencana pemindahan stasiun itu dibicarakan oleh pihak kota, tetapi baru pada tahun 1930 pemindahan tersebut disetujui," imbuhnya.

Arsitektur bangunan, menurut Antik, dibuat oleh Landsgebouwendienst (Jawatan Gedung Negara). Sedangkan perancangan teknisnya oleh Jawatan Kereta Api sendiri berdasarkan karya J. Van Der Eb. 


Pelaksanaannya dikerjakan oleh biro Algemeen Ingenieurs en Architecten (AIA), sebuah perusahaan pelaksana bangunan dan perancangan yang terkenal pada waktu itu.

Sementara itu, sekretaris tim ahli cagar budaya Kota Malang Agung H. Buana menambahkan, Stasiun Kotabaru  dibangun ketika jalur kereta api Surabaya menuju Malang dan Pasuruan mulai dirintis sekitar tahun 1870. Tujuan dibangunnya jalur kereta api ini untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari daerah pedalaman Jawa Timur.

Lebih jauh Agung menjelaskan, di dalam sistem perencanaan lalu lintas Kota Malang di era tersebut, perempatan antara Jalan Kahuripan, Jalan Kayoetangan (Jalan Basuki Rachmad), dan Jalan Semeru dijadikan sebagai pusat (titik tengah) dari sistem lalu lintas kota.

Dengan rencana pemindahan stasiun lama ke sebelah barat dari rel kereta api, maka tujuannya dari stasiun kota menuju pusat kota menjadi sangat mudah dan dapat langsung sampai. Meski begitu, ada penjelasan mengapa stasiun berada di sebelah timur rel. "Ada dua versi yang menyatakan latar belakang mengapa stasiun berada di sebelah barat," imbuhnya.

Versi pertama menyatakan jika pada masa itu di timur rel terdapat tangsi militer atau kawasan pemukiman tentara kolonial. Sehingga stasiun dibuat berhadapan langsung dengan lokasi tersebut.

Pendapat kedua menyatakan, Stasiun Kotabaru dulunya dibuat di sebelah timur rel agar penumpang yang turun bisa langsung menikmati indahnya pemandangan Gunung Panderman di sisi barat stasiun.


End of content

No more pages to load