Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., Psikolog, Dekan Psikologi UMM (Foto: Mirza/Humas)

Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., Psikolog, Dekan Psikologi UMM (Foto: Mirza/Humas)



Bunuh diri adalah persoalan yang serius. Menurut organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization) dan International Association of Suicide Prevention (IASP), lebih dari 1 juta orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya. Diprediksi, pada 2020 setiap 20 detik 1 orang akan meninggal karena bunuh diri. Sementara itu, dilansir dari Departemen Kesehatan, bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar nomor dua pada usia dewasa muda.

Kasus yang terbaru, bulan Desember 2018 lalu, dua mahasiswa dari perguruan tinggi negeri ternama di Bandung ditemukan tak bernyawa. Setelah dilakukan penyelidikan, polisi menyimpulkan bahwa penyebabnya ialah karena mereka bunuh diri. Usut punya usut, salah satu dugaan bunuh diri ini adalah karena tekanan saat mengerjakan skripsi.

Nah, salah satu penyebab seseorang melakukan bunuh diri adalah depresi. Orang yang depresi tentunya telah kehilangan harapan. Hal ini dinyatakan oleh Psikolog dan Dekan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. "Depresi ialah tahap seseorang kehilangan harapan. Tentu saja pikiran akan terombang-ambing,” katanya. 

Nah, ketika mendapatkan masalah, seseorang akan mengalami stres. Stres inilah yang menjadi pintu utama sebelum masuk ke tahap depresi. Menurut pria lulusan S3 Psikologi Institute of Neuroscience Newcastle University, Inggris Raya ini, semua orang tentu memiliki masalah. Untuk itu agar tidak mudah stres, ada beberapa hal yang harus dipegang teguh, seperti keyakinan agama.

“Orang beriman diajarkan untuk berpikir positif dan optimis, ini kunci dalam setiap jengkal kehidupan,” jelasnya.

Agar tidak masuk ke tahap depresi, Salis menyarankan beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, yakni berbagi cerita kepada orang yang dipercaya. Meski begitu, tidak semua orang dapat menjadi partner berbagi cerita. Untuk itu, haruslah kepada orang yang dapat dipercaya. Sebagai salah satu solusi, bisa juga bercerita kepada ahli atau psikolog. “Psikolog bekerja di bawah sumpah, maka keamanan rahasia akan terjamin sepenuhnya,” terang Salis. 

Selain itu, berpikir positif dan optimis harus menjadi pegangan hidup agar tak terjebak dalam tahap depresi. “Bila kita anggap diri kita tidak mampu, maka itu kemungkinan besar akan terjadi. Hal tersebut sugesti yang bermuara pada usaha-usaha yang akan dilakukan,” tandasnya.

Tentunya cara ini sangat tepat dilakukan ketika mengerjakan skripsi. Yang juga perlu ditekankan, jangan berpikir kamu saja yang sedang mengerjakan skripsi. "Jangan berpikir seolah-olah yang mengerjakan skripsi hanya Anda. Ini adalah tahap yang mesti dilalui semua akademisi,” pungkasnya.


End of content

No more pages to load