Para pengunjung menikmati suasana Hutan Kota Joyoboyo. (eko Arif s /JatimTimes)

Para pengunjung menikmati suasana Hutan Kota Joyoboyo. (eko Arif s /JatimTimes)



Berwisata atau berjalan-jalan mungkin saat ini telah menjadi kebutuhan banyak orang. Salah satunya adalah wisata hijau, yaitu menikmati keindahan alam bersama teman-teman atau keluarga.

Wisata hijau bisa dilakukan dengan mengunjungi hutan kota serta menikmati lebat dan rindangnya suasana hutan. Namun, tidak semua kota memiliki sarana wisata hutan kota.

Kota Kediri cukup beruntung karena  memiliki hutan kota seluas 2,6 hektare tepat di jantung kota. Meski berada di tengah keramaian, kawasan ini dikenal rindang karena kondisi tanahnya yang cukup subur.

Hutan kota bermanfaat untuk mengurangi degradasi lingkungan kota yang diakibatkan oleh ekses negatif pembangunan. Selain mempunyai fungsi perbaikan lingkungan hidup, hutan kota juga memiliki fungsi estetika. 

Untuk memprindah dan mempercantik hutan kota , Pemerintah Kota melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri baru saja merevitalisasi tahap kedua Taman Hutan Joyoboyo Kota Kediri, yang baru saja selesai pengerjaannya di penghujung tahun 2018 kemarin.

Dengan penambahan anggaran sebesar Rp 3,2 miliar, ruang terbuka hijau taman Hutan Kota Joyoboyo semakin terlihat elok nan asri. Hutan kota itu dikelilingi pohon besar tinggi menjulang serta wahana bermain sarat edukasi dapat ditemui disana.

Ada penambahan wahana bermain. Di antaranya sky bridge, teras pohon, play ground, balok titian, serta sarana fisik untuk edukasi tempat pengomposan sculpture (Patung Panji Galuh).

Untuk menambah suasana keceriaan pada malam hari, pihak pengelola menempatkan lampu warna-warni di beberapa titik. Revitalisasi Taman Hutan Joyoboyo pengerjaanya dimulai sejak 21 Agustus hingga 23 Desember 2018 lalu. 

"Hutan Kota Joyoboyo sudah dapat kami selesaikan pada 23 Desember akhir tahun 2018  kemarin. Secara kontraktual sudah diselesaikan. Ada tujuh item yang sudah kami perbaiki atau menjadi tambahan," kata Didik Catur, kepala DLHKP Kota Kediri, Selasa (8/1/19).

Didik berharap, masyarakat harus ikut berpartisipasi untuk tidak membuang sampah di hutan kota. Sebab, bagaimana pun hutan kota harus bisa dicintai dan disenangi masyarakat. Di hutan kota juga bisa untuk kegiatan apa pun, tetapi harus sesuai prosedur dan aturan yang ada dari Pemerintah Kota Kediri.

"Kebetulan DLHKP sebagai leading sector. Bagaimana sekarang pemeliharaan yang harus terus-menerus dan harus kami jaga karena pembangunan itu dana dari APBD," ungkapnya.

Selain arena bermain dan berswafoto, hutan Joyoboyo banyak dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat melepas lelah setelah seharian penuh berkutat dengan rutinitas sehari-hari.

Pengunjung yang datang tidak hanya dari Kota Kediri, melainkan dari daerah lain seperti Nganjuk, Tulunganggung, Blitar dan Kabupaten Kediri. 

Seperti halnya Pendik (35), warga Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri. Dia mengaku sengaja datang ke Hutan Kota Joyoboyo bersama anaknya untuk bermain. "Ajak anak bermain disini, sekalian refreshing lihat pepohonan yang tinggi," ucap Pendik.

Untuk datang ke lokasi, pengunjung tidak ditarik biaya sepeser pun. Hanya membayar restribusi tiket parkir untuk kendaraan sebesar Rp 2 ribu.

Di lokasi Hutan Kota Joyoboyo juga masih bercokol bangunan menara air zaman kolonial Belanda milik PDAM Kota Kediri. Revitalisasi yang dilakukan oleh pihak pengembang tidak menghilangkan sejumlah bangunan tua yang sudah lama bercokol disana, sehingga kesan atristiknya masih tetap terjaga

Bangunan tua menara air (watertoren) peninggalan pemerintah kolonial Belanda itu masih berfungsi melayani kebutuhan air bersih warga hingga saat ini.

Kalau membandingkan dengan bangunan lain di sekitar, menara air ini unik dan mudah dikenali. Bangunan ini pun menjadi penanda Kota Kediri . Ia juga menggambarkan upaya pemerintah Belanda menyediakan air bersih untuk warga.


End of content

No more pages to load