Ilustrasi puisi (Istimewa)

Ilustrasi puisi (Istimewa)


Pewarta

Dede Nana

Editor

Redaksi


Berhitung Dipercik Umur
*dd nana


1/ Hitunglah berapa banyak kata yang kau lahirkan dalam hitungan hari. Lantas bercerminlah. Biarkan cahaya kaca mengurainya dan membaca dirimu.
Kalau kau mujur, maka puluhan ribu kata yang kau lahirkan hanya akan tersisa tiga yang membuatmu berani menatap kehidupan dengan tabah karang lautan.
Aku Cinta Padamu.
Maka, kematian pun akan beringsut malu dan menunggu di depan pintu.


2/ Dicabutnya helai demi helai rambut yang memutih perak. Serupa guguran dedaunan pohon bidara yang dipungut para malaikat. 
Dan aku pun mencatat : "karena semua memiliki tepi dan ada batas yang tidak bisa dinaiki lagi. Walau kau memiliki sayap yang serupa Jibril.".
Dan segala yang menua dalam sinar keperak-perakan serta yang akhirnya tanggal di makan usia. Hanya bisa sampai di pangkal bidara. 
"Kita ternyata semakin menua, sayang."

 

 


3/ Kita yang menua akhirnya rela.
Bahwa segala kisah hanyalah lembaran demi lembaran cerita yang harus diselesaikan. Walau air mata masih saja harus kita lahirkan. Tak bisa bermuara pada tanda titik.
Aku menatapnya serupa akar pohon bidara yang rela mengasuh gejolak nil dan eufrat.
Dan, entah kapan aku bisa menuliskan tanda titik dengan kalimat, "kita pun tersenyum bersama. Aku di rintik hujan malam dan kau di sana dalam gelak tawa bersama bidadari kita. Mata kita sejenak menatap langit."
4/ Jika hari membuatmu lelah, rebahlah sejenak.
Bahu ini masih setia. Serupa kursi-kursi kayu di stasiun kereta tua. Yang tabah belajar merawat sunyi. Dan tak akan merantai niatmu untuk kembali pergi.
Bahu ini masih setia. Untuk lelah dan amarahmu yang kau simpan pada malam.
Rebahlah, puan.
5/ Ketika Sidratil Muntaha diliputi sesuatu yang meliputinya. 
Cinta menghidupkan dedaunan dengan bilangan tak terbilang. Tak ada musim yang akan mencabut dan mencerabutnya.
Walau kita kini saling membelakangi. Dedaunan cinta itu akan tumbuh tak terbilang dan tak akan hilang.
Walau tak ada lagi kata-kata : aku cinta padamu.
6/ Demi cahaya yang diliputi cahaya. Jejak kita akan selalu ada di lembar kulit pohon bidara.

 


End of content

No more pages to load