Ilustrasi, net
Ilustrasi, net

Tiga tahun setelah menyetor uang karena janji anaknya  bisa menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS), Sunaryo (53) -PNS warga Desa Pecuk, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung- melapor ke polisi. Sunaryo merasa ditipu dan uangnya digelapkan  A.R. Mustofa (60), warga Desa Tapan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.

"Laporan tentang penipuan dan atau penggelapan uang," kata Kapolres Tulungagung AKBP Tofik Sukendar melalui Kasubag Humas AKP Sumaji.

Modus tipu gelap yang dilakukan Mustofa bermula pada  Juli 2015. Saat itu Sunaryo bertemu Mustofa  di acara hajatan yang keduanya sama-sama hadir di sana. "Saat itu, terlapor mengatakan bisa membantu memasukkan menjadi CPNS di Kabupaten Tulungagung," ungkap Sumaji.

Karena tergiur, Sunaryo datang ke rumah  Mustofa di Desa Tapan dengan tujuan memperjelas apa yang dikatakan di hajatan itu. 
"Menanyakan syarat dan kepastian apakah terlapor dapat memasukkan anaknya jadi CPNS atau tidak," kata Sumaji.

Ternyata, Sunaryo yakin dengan janji Mustofa yang mengatakan bisa memasukkan anaknya, Raka Aprilia Nugraha, dengan syarat membayar uang sebesar 175 juta rupiah.  "Terlapor janji, apabila pembayaran uang sudah lunas, maka satu bulan kemudian SK (surat keputusan) akan keluar dan anak korban sudah bisa masuk kerja," ungkap Sumaji.

Karena percaya dengan ucapan Mustofa, Sunaryo lantas membayar uang secara langsung dan transfer hingga mencapai total 164 juta rupiah 
"Ternyata setelah ditunggu-tunggu, apa yang dijanjikan terlapor tidak benar. Saat diminta agar mengembalikan uang, terlapor hanya janji-janji,"  beber Sumaji.

Karena merasa dirugikan, Sunaryo melaporkan kejadian tersebut ke Polres Tulungagung. (*)