Belasan pelaku yang diduga terlibat kasus pembunuhan Juari saat digelandang polisi ke Polres Malang, Kecamatan Turen (Foto : Istimewa)

Belasan pelaku yang diduga terlibat kasus pembunuhan Juari saat digelandang polisi ke Polres Malang, Kecamatan Turen (Foto : Istimewa)



Belum terungkapnya kasus pembunuhan Karim Mullah atau yang akrab disapa Dullah (58), warga Jalan Segaran Desa Kendalpayak Kecamatan Pakisaji, pada 2 November lalu, membuat Polres Malang, seolah tak mau kecolongan untuk kedua kalinya. Sebab, berselang beberapa minggu kemudian, tepatnya pada Minggu (25/11/2018), kasus pembunuhan kembali terjadi di wilayah hukum Polres Malang.

Korbannya adalah Juari, warga Desa Tumpukrenteng Kecamatan Turen. Pria 41 tahun itu, ditemukan tewas mengenaskan, setelah dikeroyok oleh segerombolan pria yang tidak dikenal. Puluhan personel gabungan dikerahkan, sesaat setelah keluarga korban membuat laporan ke Polsek Turen.

Dari pendalaman MalangTIMES di lapangan, beberapa anggota korps seragam coklat ini, langsung meminta keterangan dari berbagai saksi. Diantaranya dari penuturan adik kandung korban yang bernama Farida serta istrinya Jamiatul Masamah.

Ketika mendapatkan keterangan jika Juari tewas, setelah dikeroyok dan dianiaya menggunakan gagang cangkul, celurit, cor-coran, serta pukulan dan tendangan secara membabi buta. Kecurigaan polisi selanjutnya mengarah jika pelaku tinggal di sekitar lokasi kejadian (tetangga korban).

Berawal dari kecurigaan tersebut, beberapa tokoh masyarakat serta Kepala Desa Tumpukrenteng dimintai keterangan polisi. Belakangan diketahui, petugas juga sempat menyamar dan mengikuti tahlilan akan kematian korban. Saat itulah momen menggelitik sempat terjadi. Sebab, sebagian dari jamaah ternyata ada yang diduga kedapatan sebagai salah satu pelaku pembunuhan. Bahkan yang bersangkutan sempat mengakui perbuatannya.

Tepat lima hari paska kematian Juari, atau tepatnya pada Sabtu (1/12/2018). Tim gabungan Polres Malang dan Polsek Turen, akhirnya bergegas untuk memburu keberadaan 18 orang, yang diduga kuat turut terlibat. “Saat itu suasana nampak mencekam, puluhan polisi bersenjata nampak mondar mandir di sekitar desa," kata salah satu warga Desa Tumpukrenteng, yang namanya enggan disebutkan ini.

Dia menambahkan, setelah sempat menyisir berbagai lokasi. Polisi lantas menciduk satu persatu, orang yang diduga terlibat kasus pembunuhan Juari. “Sesaat setelah diamankan, belasan orang itu lantas diglandang petugas, mungkin dibawa ke Polres Malang,” imbuhnya.

Sementara itu, beberapa waktu lalu wartawan mencoba untuk mengkonfirmasi ke Wakapolres Malang Kompol Yhogi Setiawan. Anggota polri dengan dua melati di bahu ini, membenarkan terungkapnya kasus pembunuhan tersebut. Menurutnya, dari belasan orang yang digiring polisi, tidak semuanya berstatus sebagai pelaku, sebagian dari mereka hanya dimintai keterangan sebagai saksi. “Penyidik masih melakukan pengembangan akan keterlibatan pelaku lainnya," ungkap Yhogi.

Seperti yang sudah diberitakan, Juari ditemukan tewas dengan luka mengenaskan disekujur tubuhnya. Pada bagian kepala nyaris hancur. Selain itu, luka sayatan juga ada di punggung korban. Diduga kuat motif pembunuhan, didasari rasa dendam. Sebab, selain dikenal sebagai sosok preman. Semasa hidupnya Juari memang langganan, keluar masuk penjara.


End of content

No more pages to load