Suasana mengharukan menyelimuti rumah duka di Turen setelah,Juari, korban pengeroyokan, tewas mengenaskan. (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Suasana mengharukan menyelimuti rumah duka di Turen setelah,Juari, korban pengeroyokan, tewas mengenaskan. (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)



Kasus kematian yang menimpa Juari, warga Desa Tumpukrenteng, Kecamatan Turen, masih menyisakan duka  mendalam bagi pihak keluarga yang ditinggalkan. Bagaimana tidak. Korban meregang nyawa setelah dikeroyok oleh puluhan pria tidak dikenal, Minggu (25/11/2018) dini hari. Luka lebam dan bacokan tampak memenuhi badan serta kepala Juari.

“Aku nggak nyongko, cacakku iso dipateni koyo tikus (Saya tidak menyangka, kakak kandungku dibunuh seperti cara membinasakan tikus),” ucap  Farida (adik kandung korban) sembari menagis tersedu-sedu.

Saat MalangTIMES berkunjung ke lokasi kejadian, garis polisi membentang mulai pagar hingga bagian depan rumah. Masyarakat sekitar yang merasa prihatin juga mengunjungi kediaman paman korban, yang berjarak sekitar 30 meter dari lokasi insiden pengeroyokan yang dialami Juari.

Warga silih berganti memenuhi ruang tamu dengan ukuran sekitar 6 X 4 meter tersebut. Selain mengucapkan rasa belasungkawa, para warga yang bertakziah juga membawa aneka bingkisan.

Ketika suasana sudah mulai sepi, Farida lantas mempersilakan wartawan untuk masuk ke dalam rumah. Di bawah guyuran hujan gerimis, perempuan 39 tahun itu menceritakan kisah tragis yang dialami kakaknya.

Kronologi bermula ketika Juari pulang bersama istrinya, Jamiarul Masamah, setelah melihat pesta rakyat kuda lumping  di Kecamatan Wajak. Keduanya singgah ke rumah yang selama ini ditinggal Juari dan ditempati  Farida tersebut. 

“Rumah itu (lokasi pengeroyokan) memang rumah kakak saya (korban). Tapi lama tidak ditempati dan akhirnya saya yang tinggal di sana,” tutur Farida sambil mengendong putrinya.

Dalam kondisi mabuk berat, Juari tampak sempoyongan setelah turun dari sepeda motor yang dikendarainya. Bahkan, mulut korban sempat berbusa dan muntah-muntah setelah menengguk minuman setan tersebut.

“Saya sempat memberi pertolongan pertama dan mengajak ngobrol dia (korban). Setelah sudah agak mendingan, Juari kemudian minum teh dan tidur di ruang tengah,” ungkapnya.

Namun siapa sangka, saat Juari dan istrinya singgah ke kediaman adiknya tersebut, ternyata dibuntuti oleh sekelompok orang tidak dikenal. Mereka tampak berkumpul di pos ronda yang ada di dekat rumah korban. “Sesaat setelah Juari dan istrinya tiba di rumah, ada sekitar enam orang yang mencurigakan berkumpul di pos ronda,” beber Farida.

Tidak lama setelah itu, listrik penerangan jalan di sekitar lokasi kejadian dimatikan oleh segerombol orang misterius tersebut. Karena ketakutan, perempuan 39 tahun itu lantas mengunci pintu dan mematikan lampu di dalam rumah. 

Saat bersamaan, salah satu dari mereka menghampiri rumah Farida. “Hoey... metuo Juari, aku enek urusan ambek awakmu (Hoey... keluarlah Juari, aku ada urusan denganmu),” ungkap  Farida menirukan teriakan pria misterius tersebut.

“Lapo e mas bengi-bengi kok rame-rame ndek kampunge uwong. Iki enek arek cilik pisan lo. Wes sampean mbaliko, sepurane nek masku ndue salah (Kenapa Mas malam-malam kok ramai-ramai di kampung orang. Lagian ini juga ada anak kecil. Sudah Anda pulang saja. Saya minta maaf jika kakak saya punya salah," jawab Farida.

Mendapat jawaban tersebut, pria itu lantas kembali ke pos ronda. Farida yang mengintip dari jendela rumah sempat melihat jika enam orang misterius yang membawa celurit di punggung mereka masing-masing ini tampak sedang berkoordinasi. “Mungkin salah satu dari mereka menelpon temannya. Setelah itu, puluhan orang berdatangan,” ungkap Farida.

Tanpa basa-basi, puluhan pria tidak dikenal itu kembali berteriak di halaman rumah korban. Karena tidak mendapat jawaban, sepeda motor yang terparkir di depan rumah ditendang dan dirusak oleh komplotan tersebut. “Saya tidak tahu berapa jumlah pastinya karena kondisi minim penerangan. Mereka masuk ke dalam rumah setelah memecah kaca jendela,” ujarnya.

Setelah berhasil masuk ke rumah, Juari yang sedang terlelap langsung dikeroyok. “Kakak saya ditendang, dipukul, bahkan dihantam cor-coran, kayu pentungan, dan cangkul, bahkan juga sempat dibacok menggunakan celurit,” beber Farida sambil mengusap air mata.

Tidak hanya itu saja. Korban yang sudah tidak berdaya juga diseret sekitar 100 meter hingga ke jalan depan rumah korban. “Mukanya hancur, punggungnya penuh bacokan. Darah bercucuran di sana-sini,” ungkap Farida.

Selama aksi pengeroyokan terjadi, tidak ada satu orang tetangganya yang berani memberikan pertolongan ketika Farida dan istri korban berteriak histeris. Setelah aksi tidak manusiawi itu terjadi, pihak keluarga kemudian melaporkannya ke Polsek Turen. “Beberapa personel langsung dikerahkan ke lokasi kejadian,” terang Kanitreskrim Polsek Turen Iptu Hari Eko Utomo, kepada MalangTIMES.

Hari menambahkan, pihaknya juga berkoordinasi dengan Polres Malang. Tim gabungan dari Brimob dan inafis dikerahkan untuk mengungkap kematian Juari. “Jenazah korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang guna diotopsi,” imbuhnya.

Dari keterangan polisi yang dihimpun dari tim medis, bagian kepala korban hancur akibat hantaman benda tumpul dan bekas luka bacokan. Selain itu, di punggung korban juga ada bekas bacokan yang nyaris membuat punggungnya putus. Setelah diotopsi, jenazah Juari langsung dikebumikan ke pemakaman setempat, Minggu (25/11/2018) sore. 

“Ini masih proses lidik. Kami masih mendalami terkait motif dan pelaku dari kasus pengeroyokan yang berujung kematian tersebut,” tutup Hari. (*)

 

Tag's Berita Kasus Pembunuhan

End of content

No more pages to load