Gus Riza (ketiga dari Kiri) bersama sejumlah tokoh masyarakat dan ulama di Ambulu (foto : Moh. Ali Makrus / JatimTIMES)
Gus Riza (ketiga dari Kiri) bersama sejumlah tokoh masyarakat dan ulama di Ambulu (foto : Moh. Ali Makrus / JatimTIMES)

Di saat banyak orang berlomba dan berbondong untuk mendaftar menjadi calon anggota legislatif (Caleg) salah satu partai tertentu terlebih partai yang memiliki basis kuat, bukan hal mudah, namun semua itu tidak belaku bagi sosok H. Muhammad Riza Aziziy M.IEB atau yang biasa dipanggil Gus Riza,l. 

Pria lulusan Jordania yang juga putra pertama dari KH. Ahmad Hisyam Syafaat Pengasuh Ponpes Darussalam Blokagung Banyuwangi Jawa Timur ini justru menjadi rebutan beberapa partai untuk meminangnya menjadi calon anggota legislatif.

Tentu dilamarnya Gus Riza menantu dari Da’i Kondang KH. Nur Iskandar SQ Jakarta ini bukan tanpa pertimbangan, disamping usia yang masih tergolong muda (33 tahun) pria yang pernah menjadi ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Jordania ini juga memiliki integirtas dan kemampuan yang mumpuni.

“Gus Riza adalah Caleg yang diminta Cak Imin (Muhaimin Iskandar) untuk turun gunung, hal ini dilihat dari proses yang dijalani Gus Riza dalam terjun ke politik,” ujar Ketua RMI dan Kapokja TPQ se Kabupaten Lumajang  Dzunnajah (Gus Dzun). 

Apa yang disampaikan oleh Gus Dzun asal Padang Lumajang ini tidak lah berlebihan, hal ini dilihat bagaimana proses pria yang saat ini sedang menempuh S3 di Universitas Tri Sakti Jakarta ini masuk ke dunia politik, tentu selain pengalamannya di berbagai bidang di organisasi dan juga sebagai pengurus LP. Ma’arif NU Pusat,serta ribuan alumni pondok pesantren Darussalam Blokagung yang ada di beberapa daerah di Indonesia khususnya di Jember juga menjadi pertimbangan.

“Saya menjadi calon anggota legislatif dan terjun ke politik bukan pilihan tapi karena beberapa sebab, awalnya ada 3 partai besar yang datang ke Blokagung, 2 Partai berbasis Nahdliyin dan 1 partai nasional, ketiganya partai besar, karena ketuanya sama-sama pernah memimpin negeri ini, baik sebagai presiden maupun wakil presiden,” kenang Gus Riza.

Singkat cerita setelah melalui pertimbangan dan atas izin orang tua, Gus Riza memilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hal ini bukan tanpa sebab, tapi juga melalui Istikharah dan pertimbangan kedua orang tuanya. “Saya memilih PKB, karena basis pemilih di partai ini merupakan orang-orang yang mau memondokkan anaknya di pesantren,” tambah Riza.

Sementara KH. Ahmad Wafa pengasuh Pondok Assunnah Karang Templek Ambulu yang juga alumni Pondok Pesantren Darussalam Blokagung menyatakan, bahwa majunya Gus Riza sebagai Calon Anggota DPR RI Dapil IV Jatim yang meliputi Jember-Lumajang dengan nomor urut 5 merupakan jawaban suara alumni dan santri di Jember yang selama ini hanya dijadikan pendulang suara oleh anggota dewan yang sudah duduk di Senayan.

“Majunya Gus Riza lewat Dapil Jember Lumajang adalah jawaban dari pencarian keterwakilan alumni dan santri Jember yang tergabung dalam Al Adab, selama ini dua kali pemilu, teman-teman alumni hanya di jadikan lumbung suara tanpa ada imbal balik dari program-program anggota dewan, dengan adanya Gus Riza suara alumni khususnya dan para santri dan masyarakat bisa terwakili, apalagi, beberapa kali romo Kyai Hisyam menyampaikan kalau majunya Gus Riza ke senayan sebagai wujud bangkitnya para santri,” ujar Gus Wafa. (*)