Ilustrasi Rumah

Ilustrasi Rumah



Di masa penghujung musim kemarau yang terjadi dalam beberapa minggu ini, hujan mulai turun hampir di seluruh Indonesia dengan intensitas yang beragam. Jika hanya hujan saja yang turun pada musim pancaroba ini, mungkin tidak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah ketika hujan yang turun diiringi oleh bencana puting beliung. Bencana puting beliung diketahui paling marak muncul saat musim-musim pancaroba seperti ini.

Terjadinya puting beliung tidak semerta-merta hanya pada musim pancaroba saja, kapanpun dapat terjadi, hanya saja intensitasnya lebih meninggi pada musim tersebut. Data bencana alam yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengemukakan bencana puting beliung merupakan bencana yang paling sering terjadi di Indonesia dibanding Gempa Bumi, Banjir, atau Gunung Meletus.

Selama 2018, sebanyak 447 kali puting beliung melanda beberapa wilayah di Indonesia dengan intensitas terbanyak pada pulau jawa. Berkaca pada dampak yang diakibatkan oleh bencana tersebut, properti merupakan salah satu sektor yang paling dirugikan. Berdasarkan data yang sama, 8.457 properti rusak imbas terkena bencana puting beliung selama 2018. Adapun penjabarannya secara detail yakni 754 rusak berat, 1.691 rusak sedang, dan 6.012 rusak ringan.

Kejadian terakhir adalah pada beberapa hari lalu di Kompleks Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, puting beliung merusak 14 venue dengan total kerugian materiil 20 milyar. Selain merusak infrastruktur olahraga tersebut, 29 hunian di kelurahan Ulu dan Jakabaring pun terkena rusak parah dan rusak ringan.

Dalam 5 tahun terakhir (sejak 2014), porsi jumlah kejadian bencana puting beliung menempati 3 teratas dalam daftar bencana alam yang terjadi di Indonesia. Adapun jumlah kejadian pun selalu berada di angka 500 kali dengan total kerusakan berat properti rata-rata di atas 1800 unit.

Maraknya peristiwa puting beliung, tentu memunculkan kekhawatiran tersendiri dan kemudian memunculkan pertanyaan apakah perlu mengembangkan hunian anti angin puting beliung? Menurut Stanley Wangsaraharja, Ketua Bidang Infrastruktur Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), mengatakan sebenarnya urgensi pengembangan rumah anti puting beliung sudah dirasa penting untuk dikembangkan. Ia mengatakan saat ini sebenarnya sudah berlangsung prosesnya. Setidaknya sudah terlihat dalam penggunaan material-material yang telah teruji secara nasional (SNI) dalam pengembangan proyek rumah dijual, khususnya untuk developer-developer besar dan sebagian developer independen.

Secara teknis, guna meredam dampak yang sangat parah akibat bencana tersebut, para kontraktor harus jeli dalam mendesain struktur bagian atap dan dinding yang mampu menahan beban lateral. Ia menekankan perlunya studi wilayah sebelum pengembangan, apakah wilayah tersebut memiliki riwayat bencana angin puting beliung yang rutin terjadi tiap tahunnya ataupun tidak.

Melalui studi ini, para pendesain rumah (arsitek) dan developer akan lebih mudah untuk menentukan komposisi 'bukaan dan bidang'. Komposisi bukaan dan bidang yang dimaksud merupakan komposisi antara dinding dan jendela, semakin rawan wilayah tersebut, komposisi dinding (bidang) seharusnya akan lebih besar dibanding komposisi jendela (bukaan), guna meredam angin yang masuk ke dalam hunian. Dalam penentuan komposisi ini pun, guna mencegah dampak yang terjadi para pemilik properti harus bisa memahami kondisi dimana dirinya ingin mendirikan huniannya.


End of content

No more pages to load