Pemasangan pembatas di atas tanah yang eksekusi (foto : Joko Pramono/ Jatimtimes)
Pemasangan pembatas di atas tanah yang eksekusi (foto : Joko Pramono/ Jatimtimes)

Seorang wanita berusia 63 tahun harus merelakan sebagian rumah dan mobilnya. 

Tutut Sriwidya Astuti warga Desa/Kecamatan Boyolangu ditipu oleh calon besanya Acik Kusnia warga Desa Plandaan Kecamatan Kedungwaru.

Akibatnya kini bagian depan rumahnya dilelang oleh pihak bank tempat Acik menggadaikan sertifikat tanahnya.

Tak hanya tanah, dirinya juga harus merelakan mobilnya hilang lantaran ulah si calon besan.

Tutut menceritakan awal mula kejadian itu. Pada tahun Acik mengeluh pada Tutut untuk meminta bantuan modal. 

Tutut sebagai calon besan percaya saja dengan Acik, hingga menyerahkan sertifikat dan mobilnya untuk digunakan sebagai modal oleh Acik.

“Karena saya tidak punya uang, sertifikat saya pinjamkan ke Acik untuk dijadikan agunan di bank,” ujar wanita yang masih enerjik itu.

Sayang niat baiknya dibalas dengan air tuba oleh Acik. Sertifikat yang diagunkan ternyata tidak dibayar cicilanya oleh Acik. Hingga akhirnya sertifikat tanah miliknya dilelang.

“Sudah terjadi seperti ini dan ternyata sudah dilelang,” katanya lebih lanjut.

Dirnya juga sudah melakukan upaya hukum untuk meminta haknya lagi. Menggugat hingga Mahkamah Agung sudah dilakukanya, namun pihaknya kalah dalam persidangan.

Mediasi juga dilakukanya dengan menebus tanahnya pada pemenang lelang, namun tidak tervapai kesepakata, hingga berujung pengosongan paksa hari ini.

“Saya sudah menawar untuk menebus hingga 160 juta, namun tetap enggak mau,” ujarnya.

Sementara itu putra pemenang lelang, Ega Bahrul Fuad warga Desa Suwaru Kecamatan Bandung, ungkapkan jika ayahnya telah membeli tanah seluas 161 meter persegi itu melalui lelang di salah satu bank.

“Sekitar 60 jutaan, sekitar tahun 2013,” ujar Ega, panggilan akrabnya.

2017 lalu dirinya menerima  putusan dari mahkamah agung yang menyatakan memenangkan gugatan atas tanah ini. 

Namun karena belum bisa menguasai aset yang dimaksud, pada petengahan tahun 2018 ini pihaknya ajukan eksekusi atas tanah ini.

“Ya terpaksa kita ajukan eksekusi ke Pengadilan,” tutur pria 29 tahun itu.

Juru Sita Pengadilan Negeri  Kabupaen Tulungagung, Supiadi di lokasi membenarkan eksekusi itu. 

Sumiran mengajukan eksekusi pada 6 Juli 2018, kemudian oleh Ketua PN Tulungagung memerintahkan untuk melakukan eksekusi.

Setelah sebelumnya dilakukan mediasi, namun tidak tercapai titik temu.

“Akhirnya bangunan kita eksekusi,” tutur Supiadi.

Eksekusi berjalan lancar dengan pengawalan pihak kepolisian. 

Eksekusi dilakukan dengan memasang pembatas di tanah dan bangunanseluas 161 meter persegi.