Roni alias Kabul saat dinasehati Kapolres Tulungagung, AKBP Tofik Sukendar beberapa waktu lalu (foto : Joko Pramono/TulungagungTimes)
Roni alias Kabul saat dinasehati Kapolres Tulungagung, AKBP Tofik Sukendar beberapa waktu lalu (foto : Joko Pramono/TulungagungTimes)

Dalam kurun waktu 10 bulan, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Tulungagung telah menangani 11 kasus. Artinya rata-rata setiap bulanya, UPPA menangani 1 kasus.

"Hingga Oktober 2018, kasus yang masuk ke kita 11 kasus, baik persetubuhan maupun pencabulan," ujar Kapolres Tulungagung melalui Kanit UPPA, Ipda Retno Pujiarsih.

Jumlah ini lebih rendah jika dibandingkan tahun lalu. Tahun 2017 lalu pihaknya menangani sekitar 17 kasus.

Untuk bobot kasus sendiri, menurut Retno bervariasi. Namun untuk penanganan kasus pencabulan anak dengan orientasi seks sejenis, baru kali ini ditangani olehnya.

"Baru kali ini saya menangani kasus pencabulan anak laki-laki dengan pelaku pria dewasa," tutur wanita berpostur tinggi besar itu.

Perkara yang dimaksud ialah kasus pencabulan yang dilakukan oleh Roni alias kabul (45). Predator anak itu menargetkan anak laki-laki sebagai pemuas nafsu syahwatnya. 

Pemilik cafe 'Cendana' di Dusun Pasir, Desa Junjung Kecamatan Sumbergempo itu, mengakui telah mencabuli 3 anak laki-laki.

Untuk pelaku kejahatan anak, pihaknya akan tetap memprosesnya, meskipun penahanan terhadap pelaku merupakan opsi terakhir. 

Sesuai dengan UU perlindungan anak, pelaku anak akan dikembalikan kepada orangtuanya sembari proses hukum tetap berjalan.

"Proses tetap berlanjut tapi kita tidak melakukan penahanan," tuturnya lebih lanjut.

Untuk hukuman sendiri, tergantung dari besar kecilnya tindak kejahatan yang dilakukan oleh pelaku anak. Mulai dari mengikuti pelatihan hingga menjalani hukuman kurungan."Tergantung bobot kasusnya," tandasnya.