Peternak ayam petelur di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang tengah memanen telur ayam ras di kandang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Peternak ayam petelur di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang tengah memanen telur ayam ras di kandang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Kebijakan ekspor jagung oleh Kementerian Pertanian (Kemtan) di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menuai keluhan dari peternak ayam petelur di Malang. Pasalnya, kelangkaan jagung di pasaran membuat harga pakan ternak semakin mahal. Hal itu ditambah dengan merosotnya harga jual di tingkat peternak hingga Rp 15 ribu per kilogram. 

Para peternak mengeluhkan lesunya tingkat penyerapan pasar yang berdampak pada anjloknya harga jual. Ditambah lagi dengan mahalnya harga pakan mengakibatkan para peternak ayam petelur mengalami kerugian ganda. Mirisnya, kondisi ini sudah berlangsung sekitar dua bulan terakhir. 

Di peternakan ayam petelur milik Yasin, di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang misalnya. Setiap hari mengalami kerugian sebesar Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta. Hasil panen telur dari sekitar 9 ribu ekor ayam ras miliknya, gagal menutup biaya operasional dan pembelian pakan ternak setiap harinya. "Untuk saat ini bagi petani berat sekali, dengan kondisi pakan jagung, bekatul (dedak) dan konsentrat pabrikan yang mahal dua bulan ini mengalami kerugian," ujarnya.

Setiap hari, paling tidak pihaknya harus menyediakan campuran pakan berupa konstentrat, bekatul dan jagung serta ditambah vitamin senilai Rp 3,5 juta hingga Rp 4 juta. "Beratnya lagi karena harga pakan mahal. Sebenarnya peternak kalau sedang sepi, harga terlur Rp 15 ribu masih oke jika pakan masih kisaran Rp 4 ribu. Tapi sekarang kan pakan sampai Rp 6 ribu," ujarnya. 

"Biaya produksi kita itu Rp 17 ribu, jadi rugi kita itu Rp 2 ribu per kilo untuk saat ini. Kerugian total sekitar Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta per hari dan sudah hampir sekitar dua bulan," tambahnya. Meskipun di pasaran harga telur ayam ras masih di kisaran Rp 18-19 ribu per kilogram, harga di tingkat peternak hanya Rp 15 ribu. Salah satu faktor lainnya, yakni pada bulan Sura (Muharram) ini menurutnya memang selalu ada penurunan penjualan. 

Untuk mengatasi kondisi tersebut, lanjutnya, para peternak melakukan beberapa langkah antisipatif. Mulai dengan mencari pakan alternatif dan mengurangi komposisi pakan satu level di bawah standar. Hingga pemutusan satu generasi atau 'pensiun dini' bagi ayam yang memasuki masa tidak produktif. "Ya mau tidak mau afkir dini.Kan semakin tua ayam produktivitas menurun. Dengan harga sekian, produksi sekitar 75 persen kami sudah merugi," terangnya.

Yasin berharap, nantinya akan ada kebijakan dari pemerintah pusat terkait kebijakan ekspor impor yang mendukung sektor peternakan. "Harapan peternak ayam, ya untuk pemerintah diimpor lah jagungnya. Jangan malah diekspor. Kami di Jawa kan kesulitan jagung, jagung di Malang nggak ada malah diekspor ke Filipina," pungkasnya.