Pengurus Aasap saat berbindang dengan sekwan dan dishub di gedung dewan  (Agus Salam/Jatim TIMES)

Pengurus Aasap saat berbindang dengan sekwan dan dishub di gedung dewan (Agus Salam/Jatim TIMES)


Pewarta

Agus Salam

Editor

Heryanto


Belasan Angkutan Kota (Angkot) Kamis (25/10) sekitar pujul 07.30 mendatangi gedung DPRD Kota Probolinggo.

Mereka ke kantor wakil rakyat, hendak meminta menjadi penengah persoalan antara angkot dengan kendaraan online.

Janya saja, merke pulang dengan tangan hampa. Sebab, anggota DPRD yang akan ditemui, tidak ada di tempat.

Kabar yang mereka terima, ke 30 anggota DPRD tersebut, tengah reses hingga 27 Oktober mendatang. Sopir angkot yang tergabung dalam Asosiasi Sopir Angkot Probolinggo (Asap) pulang dengan kecewa.

Perwakilan sopir angkot, ditemui Warsito, Plt Sekretaris Dewan (Sekwan) di serambi depan gedung DPRD.

Dijelaskan, pihaknya tidak mengajak perwakilan Asap ke ruang tranbsit, karena tidak boleh oleh DPRD.

Pihanya pernah ditegur karena beberapa waktu sebelumnya, pernah mempersilahkan warga yang hendak bertemu dewan ke ruangan tersebut.

Khawatir kejadian serupa terulang kembali, Warsito bersama beberapa staf Dinas Perhubungan (Dishub) menemui perwakilan sopir di luar gedung. Kepada mereka, Warsito menjelaskan, kalau 30 dewan tidak ngantor lantaran sedang reses.

“Tugas kami tidak sama dengan wakil rakyat. Sekwan hanya melayani anggota DPRD,” tandasnya.

Karena itu, Warsito tidak akan menyampaiken maksud dan tujuan sopir angkot datang ke gedung DPRD.

Mengingat, tugas sekwan bukan hanya melayani anggota dewan dan warga yang datang ke kantornya.

Ia menyarankan, agar Asap berkirim surat ke DPRD dan dirinya bersedia menyampaikan surat tersebut ke pimpinan DPRD.

“Buat surat saja. Isinya, apa tujuannya dan kapan akan bertemu DPRD. Nanti kami yang menyampaikan,” opungkasnya.

Mendapat penjelasan seperti itu, pengurus Asap tidak banyak berkomentar.

Mereka kemudian meninggalkan dewan, sesaat setelah mengatakan, akan membuat surat seperti saran sekwan.

Mereka mengemudikan angkutannya sendiri untuk bekerja mencari penumpang kembali.

“Kalau begitu, akami akan bekerja lagi. Kami akan bersutrat ke DPRD seperti saran  sekwan,” ujar salah satu dari mereka.

Buasan, salah satu sopir angkot mengatakan, dirinya ke dewan bersama belasan sopir untuk  menyampaikan keluhannya soal masih beroperasinya kendaraan online.

Disebutkan, sebelumnya, ia bersama sejumlah rekannya mengamankan seorang sopir grab yang ketahuan mengambil penumpang kereta Api (KA) di depan stasiun.

“Kami melihat empat penumpang KA naik grab. Ya kami cegat,” ujarnya.

Pihaknya berani mengambil langkah seperti itu, karena mobil onlin dilarang beroperasi sesuai perwali. Apalagi, antara Asap dengan mobil online sudah ada kesepakatan, dilarang mencari penumpang di seputar alun-alun.

“Mereka kan melanggar perwali dan kesepakatan. Ya, kami berani mencegat mereka sekaligus menurunkan penumpangnya. Penumpang kereta itu, milik angkot,” pungkasnya.

Hal senada disampaikan De’er Ketua Asap. Menurutnya, grab atau kendaraan berbasis internet lainnya, tidak boleh mengambil penumpang di tempat yang sudah disepakati antar keduanya.

Mengingat, Angkot dan grab sudah sepakat dalam pertemuan yang digelar sebulan yang lalu.

“Kami sudah sepakat, grab tidak boleh mengambil atau ngetem di alun-alun, swalayan atau mall. Kita harus menghargai keseopakatn, meski kesepakatan secara lisan atau tidak tertulis,” terangnya.

Ditempat yang sama, Kabid LLAJ pada Dishub Novianto, membenarkan kalau wali kota mengehnetikan sementara angkutan berbasis online. Pihaknya bukannya tidak serius menerabkan perwali tersebut.

“Kami tetap menertibkan sngkutan online. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Angkutan online tetap beroperasi, karena sangsinya tidak ada,” tandasnya.


End of content

No more pages to load