Yeni Puji Lestari dan M Gozali tersangka pemerasan dan penipuan saat sesi rilis di Polres Malang, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Yeni Puji Lestari dan M Gozali tersangka pemerasan dan penipuan saat sesi rilis di Polres Malang, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Sudah jatuh tertimpa tangga. Pribahasa ini sepertinya pantas untuk menggambarkan penderitaan Istiqomah, Warga Desa/Kecamatan Tumpang. Bagaimana tidak, Yusuf suami dari ibu rumah tangga tersebut, harus mendekam di balik jeruji tahanan lantaran terlibat kasus narkotika 27 September lalu.

Alih-alih ingin membantu pembebasan hukum yang membelit suaminya, korban justru terkena tipu muslihat pemerasan. Total ratusan juta diglontorkan demi mengupayakan si suami korban agar terbebas dari kasus hukum.

Kasatreskrim Polres Malang AKP Adrian Wimbarda menuturkan, tepatnya pada 1 Oktober lalu, korban bertemu dengan Yeni Puji Lestari. Saat itu warga Desa Pakisjajar Kecamatan Pakis ini, mengaku sebagai salah satu anggota Intel Polda Jawa Timur, dan bisa membebaskan suaminya yang sedang ditahan Satreskoba Polres Malang.

Mendengar pengakuan tersebut, korban percaya dan menuruti permintaan tersangka untuk membebaskan suaminya. “Pelaku semula meminta uang Rp 25 juta, dengan dalih upaya pembebasan suami korban,” kata Adrian saat sesi rilis di halaman Polres Malang, Rabu (17/10/2018).

Tidak berhenti disitu, selang beberapa hari kemudian. Yeni meminta tambahan biaya sebesar Rp 3.250.000, terkait kasus pembelian sabu yang mengakibatkan suami korban dijebloskan ke penjara. Tanpa berfikir panjang, perempuan 37 tahun itu, mengiyakan permintaan tersangka. “Total uang yang diminta sempat dikembalikan Rp 10 juta oleh tersangka, tujuannya untuk mengelabuhi korbannya agar lebih percaya,” sambung Adrian.

Berselang beberapa hari pasca pengembalian uang, Istiqomah sempat menagih janji kepada Yeni. Namun, tersangka berdalih masih belum bisa dibebaskan lantaran suaminya ternyata terlibat bandar ganja, dan sudah jadi target operasi (TO) dan mengisi Daftar Pencarian Orang (DPO) Polres Malang.

“Jika ingin suaminya dibebaskan, korban disuruh membayar Rp 350 juta, bahkan jika tidak segera menyerahkan uang, suaminya diancam bakal dihajar oleh penyidik kepolisian,” tutur Adrian di hadapan awak media.

Adrian menambahkan, merasa keberatan korban sempat menawar agar nominal yang diminta dikurangi menjadi Rp 150 juta. Merasa tidak terima, Yeni dan suaminya M Gozali sempat menodongkan pistol dan mengancam akan menembaknya.

“Korban sempat disekap selama dua hari oleh kedua tersangka dirumah mereka. Bahkan jika tidak segera membayar, diancam akan disandra selama satu tahun,” imbuhnya.

Sempat terjadi negosiasi antara tersangka dengan korban. Hasilnya dua hari setelah disekap, korban mengiyakan permintaan keduanya dengan membayarkan uang tunai melalui transfer senilai Rp 20 juta. Merasa kurang, Gozali meminta agar mobil Toyota Hardtop nopol B 1022 GCV milik korban, dibawa tersangka sebagai jaminan.

Setelah kesepakatan terjalin, korban akhirnya dibebaskan, dengan syarat harus membeli sabu dengan alasan kepentingan penyidikan. Karena curiga, korban akhirnya menanyakan kepada petugas Satreskoba Polres Malang. Mendapat laporan ini, polisi lantas mendalami kasus tersebut. Selain dari keterangan korban, polisi juga mendapat laporan dari warga sekitar jika kedua tersangka memang sering melakukan pemerasan.

“Berawal dari laporan dan keterangan saksi, kami akhirnya mengamankan kedua tersangka, Selasa (16/10/2018),” sambung Adrian.

Dari hasil penyidikan polisi, uang hasil pemerasan selain digunakan untuk keperluan sehari-hari, juga sempat digunakan Yeni untuk membeli smartphone. Hingga kini, polisi masih mendalami kasus tersebut. Diduga tersangka tidak hanya sekali melancarkan aksi pemerasan. Rata-rata korbannya berasal dari daerah Kabupaten Malang. Modusnya sama, yakni mengaku anggota Intel Polda Jatim, dan bisa membebaskan tersangka yang terjerat kasus narkoba.

Selain kedua tersangka, korek berbentuk pistol, satu unit smartphone, mobil hardtop, nota pembelian handphone, dan rekening transaksi pembayaran, disita polisi sebagai barang bukti. “Tersangka dijerat pasal 55 dan 368 sub 378 KUHP tentang penipuan dan pemerasan, ancaman maksimal 9 tahun penjara,” tegas Adrian.

Sementara itu, sepanjang sesi rilis, kedua tersangka nampak biasa saja. Nyaris tidak ada raut muka menyesal yang terpancar di wajah keduanya. Kepada MalangTIMES, pasangan suami istri yang dikaruniai dua orang anak ini, mengaku jika pistol korek yang digunakan mengancam korban merupakan milik anaknya yang dibeli di Kota Malang. 

Gozali menuturkan, dia dan istrinya memang sering dimintai tolong warga yang terjerat kasus hukum agar bisa dibebaskan. Pria yang berprofesi sebagai Kepala Dusun Pakisjajar ini, mengklaim bisa mengentaskan tahanan yang terjerat hukum. Mulai dari kasus begal, narkoba, hingga pencurian, semua bisa ditangani oleh pria 38 tahun tersebut.

“Selain punya relasi di kejaksaan, hampir semua pejabat dan anggota Polres Malang saya kenal semua. Dari kasus yang saya tangani, biasanya saya hanya dikasih uang imbalan untuk beli rokok dan bensin maksimal Rp 100 ribu,” pungkasnya.