Ilustrasi.(Foto : dictio.id)
Ilustrasi.(Foto : dictio.id)

Setiap tahun pada akhir musim dingin atau setelah panen, Raja Majapahit Hayam Wuruk (1350-1389) yang bergelar Sri Rajasanagara berkeliling hingga ke luar ibu kota. Beliau pergi menggunakan pedati yang ditarik sapi dan diiringi rombongan. Perjalanan tersebut tercatat dalam Kitab Nagarakertagama karya Mpu Prapanca, pujangga yang turut dalam perjalanan tersebut.

Salah satu bagian terpenting dari teks ini adalah menguraikan perjalanan Hayam Wuruk dengan tujuan untuk berkunjung ke daerah-daerah kekuasaan Majapahit pada waktu itu, khususnya di wilayah Jawa Timur.

Dalam teks tersebut tercatat bahwa Hayam Wuruk sempat berkunjung ke wilayah Blitar sebanyak dua kali. Di antaranya pada tahun Saka tiga badan dan bulan (1283) Waisaka, yang tercatat dalam kutipan Negarakertagama pupuh 61.

“Ndan ri çakha tri tanu rawi riɳ weçaka, çri natha muja mara ri palah sabhrtya, jambat siɳ ramya pinaraniran / lanlitya, ri lwaɳ wentar mmanuri balitar mwaɳ jimbe”. Artinya: Tahun Saka tiga badan dan bulan (1283) Waisaka, baginda raja berangkat menyekar ke Palah dan mengunjungi Jimbe untuk menghibur hati. Di Lawang Wentar, Blitar menenteramkan cita.

Kunjungan Hayam Wuruk ke Blitar waktu itu lebih bersifat keagamaan dan bertujuan memuja leluhur. Hal itu ditandai oleh kegiatan dan kunjungannya ke tempat-tempat suci guna menghormati leluhur dinasti Majapahit. Tempat-tempat yang mendapat perhatian khusus antara lain Candi Palah (Candi Penataran), Jimbe, Lawang Wentar (Candi Sawentar), dan di Balitar sendiri untuk menentramkan cita.

Dari Blitar, Hayam Wuruk bersama rombongan melanjutkan perjalanan ke arah selatan hingga tiba di Lodaya. Di sana Hayam Wuruk sempat bermalam beberapa hari dan juga menikmati pemandangan indah di pantai selatan.

Setelah itu, tempat terakhir yang dikunjungi Hayam Wuruk adalah Candi Simping. Di sana sang raja ingin memperbaiki candi makam leluhur. Melihat Candi Simping yang merupakan pendarmaan Raden Wijaya agak miring ke barat, Hayam wuruk memerintahkan pasukannya untuk menegakkan kembali menaranya agak ke timur.

Perbaikan tersebut disesuaikan dengan bunyi prasasti yang dibaca lagi, diukur panjang lebarnya, dan di sebelah timur sudah ada tugu. Selain itu, sebuah pura di gurung-gurung diambil halamannya untuk sebagai denah candi makam leluhurnya tersebut.

Selain itu, dalam Negarakertagama pupuh 70 dijelaskan secara khusus baginda raja kembali mengunjungi Candi Simping. Pada tahun Saka angin delapan utama (1285), Hayam Wuruknmengunjungi Simping demi pemindahan makam kakeknya tersebut. Semua lengkap dengan segala persajian menuut adat. Upacara tersebut dipimpin oleh Rajaparakrama.

Sekembalinya dari Simping, Hayam Wuruk segera masuk ke pura. Beliau terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada sedang jatuh sakit. Raja Hayam Wuruk sangat sedih kerena Gajah Mada pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa, di Bali, serta Kota Sadeng untuk memusnahkan musuh.

Penggalan kisah tersebut merupakan rangkaian perjalanan Hayam Wuruk ke wilayah Blitar yang tercantum di Kitab Negarakertagama. Selain itu, para pakar beranggapan bahwa Hayam Wuruk sering melakukan kunjungan ke wilayah Blitar. Pasalnya, pada waktu itu Blitar dipercaya sebagai tanah kaum brahmana yang telah disucikan oleh para pendahulu Majapahit.(*)​