Tangkapan layar foto Ratna Sarumpaet usai operasi plastik yang beredar di media sosial.
Tangkapan layar foto Ratna Sarumpaet usai operasi plastik yang beredar di media sosial.

Rentetan kejadian yang melibatkan Ratna Sarumpaet menimbulkan berbagai analisis dari para akademisi. Salah satunya datang dari dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan sekaligus PhD student of Oxford UK Ahmad Mukhlis Firdaus atas kebohongan anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang sudah mengundurkan diri itu.

Seperti diberitakan, awalnya foto Ratna Sarumpaet gempar diwartakan di media sosial tampak lebam dan bengkak. Dia mengklaim bahwa luka itu akibat penculikan dan penganiayaan tiga lelaki di area Bandara Husein Sastranegara di Bandung. Para politikus di kubu Prabowo-Sandi lantas ramai-ramai menuntut pengusutan kasus. Publik yang gempar menjadi lebih heboh ketika Ratna mengaku bahwa dia hanya mengarang hoax dan luka di wajahnya akibat operasi plastik. 

Menanggapi rentetan kejadian itu, Ahmad Mukhlis Firdaus mengunggah tulisan di laman Facebook miliknya. Tulisan itu berjudul Ratna Sarumpaet dan teknik firehose of the falsehood. MalangTIMES mengutip analisis yang dipaparkan Ahmad.

Menurut dia, jika benar Prabowo-Sandi menggunakan konsultan politik yang sama dengan konsultan politik Donald Trump, maka apa yang dilakukan Ratna Sarumpaet ini adalah bagian dari teknik firehose of the falsehood. "Jadi, ini adalah bagian kebohongan kentara (obvious lies) yang direncanakan untuk membangun ketakutan," tulis Ahmad. 

Penelitian Rose McDermott mengenai Genetic of Politics menunjukkan orang konservatif dan progresif memiliki pola kerja otak yang berbeda. Konservatif memiliki amygdala yang Iebih aktif. Sementara progresif memiliki insula yang Iebih aktif.

Amygdala adalah bagian otak yang berhubungan dengan rasa takut. Sementara insula berhubungan dengan rasa empati. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian Rose McDermott yang memperlihatkan gambar seseorang yang sedang ditahan oleh polisi sambil ditekan di lantai dengan kondisi dramatis. 

Orang-orang konservatif akan cenderung melihat badge dan logo yang terdapat pada baju seragam polisi di gambar tersebut. Sementara progresif akan melihat mata dari orang-orang yang ada di foto. Mata adalah window to the soul bagi orang-orang progresif. 

Maka, orang-orang konservatif akan Iebih menyukai keteraturan (order) dan kagum pada otoritas (authority). Sementara orang-orang progresif yang didorong oleh empati akan Iebih cenderung bergerak berdasarkan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Jadi, obvious lies yang kita Iihat akhir-akhir ini adalah untuk men-trigger amygdala para calon pemilih. Teknik firehose of falsehoods ini memang untuk membangun ketidakpercayaan terhadap informasi dan membuat amygdala masyarakat aktif secara terus menerus.

Amygdala adalah bagian otak yang tergolong primitif karena berhubungan dengan kemampuan kita bertahan (survival instinct). Sementara, dibutuhkan tingkat kecerdasan tertentu bagi sesorang agar insula-nya lebih aktif. 

Seperti yang dapat dibaca dari data Cambridge Analytica, pemilih konservatif memang cenderung akan memilih Prabowo-Sandi. Jadi, trigger amygdala ini akan berfungsi untuk membuat bimbang kelompok yang ada di tengah di mana selain insula-nya aktif, amygdala-nya masih sedikit lebih dominan. 

Jadi, modeI obvious lies seperti yang kita lihat sekarang ini bukanlah yang terakhir. Teknik firehose of the falsehoods ini membutuhkan kebohongan-kebohongan yang dilakukan secara repetitif dan terus-menerus. "Maka, tampaknya kita akan menyaksikan model pilpres Amerika Serikat 2016 pada pilpres Indonesia 2019 ini," pungkasnya. (*)