Para barista tampak menunjukkan cara meracik kopi menggunakan teknik manual brewing V60 di Klinik Seduh International Coffee Day di Kota Malang (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)
Para barista tampak menunjukkan cara meracik kopi menggunakan teknik manual brewing V60 di Klinik Seduh International Coffee Day di Kota Malang (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)

International Coffee Day atau Hari Kopi Internasional diperingati para pecinta kafein di Kota Malang. Ratusan penikmat kopi yang didominasi kalangan muda itu belajar membuat kopi di Klinik Seduh yang digelar para barista dari berbagai cafe di kota pendidikan itu.

Mereka berkumpul di Gedung Graha Cita Insan, Kota Malang, hari ini (1/10/2018) mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Sambil membawa gelas kopi berwarna putih, mereka berbaur menikmati kopi khas Malang sembari mendengarkan musik akustik. Sebagian, tampak asyik menikmati penjelasan para barista tentang berbagai cara menyeduh kopi.

Sejumlah barista pun mengeluarkan beberapa alat seduh kopi dan memeragakan langsung penggunaannya. Aroma kopi khas Malang tercium ketika barista mulai menyeduh kopi. Masyarakat mulai pecinta kopi maupun masyarakat umum antre untuk mendapatkan segelas kopi gratis.

Event yang digagas oleh sejumlah pemilik kedai dan pecinta kopi di Malang raya ini sengaja digelar dalam rangka memperingati Hari Kopi Internasional pada 1 Oktober. Kali ini, konsep acaranya bertajuk acara sosial berupa pembagian seribu kopi gratis.

"Konsepnya acara sosial, kita berbagi kopi. Acaranya tanpa ada brand sponsor apapun. Ini digagas oleh pegiat kopi di Malang," ujar Nugroho Dwi Sudibyo, koordinator acara.

Dalam acara bertajuk Ngopi di Malang 2018 itu, ada 250 hingga 300 pemilik kedai kopi di Malang yang ikut serta. Pembagian seribu kopi gratis, sambung Nugroho, bukan hanya sekedar kegiatan berbagi semata. Namun tujuannya adalah untuk mengenalkan potensi dan rasa kopi khas Malang.

Dia menguraikan, ada sedikitnya tujuh kopi Malang yang dibagikan pada event kali ini. Di antaranya kopi dari Dampit, Tirtoyudo, Gunung Arjuno, Bukti Songgoriti, Panderman, dan kopi dari lereng Gunung Bromo.

"Yang dibagikan adalah kopi murni, kami juga ingin mengenalkan gaya hidup ngopi di era kekinian yang berbeda dibandingkan zaman dahulu," kata pria yang juga pemilik kedai kopi di kawasan Dinoyo Kota Malang ini.

Selain pembagian kopi gratis, panitia juga menyediakan spot edukasi kopi. Di lokasi itu, para pengunjung bisa belajar tentang tata cara sangria (roasting) kopi dan menyeduh kopi. Pengunjung juga diberi tahu alat seduh kopi dari berbagai negara, mulai dari Indonesia, Perancis, Jerman, dan negara lainnya.

"Kopi bukan hanya sekedar diminum, tetapi ada proses-proses yang dilalui. Kalau dulu konsumen hanya pesan kopi kemudian dinikmati, saat ini konsumen juga ingin tahu bagaimana proses pembuatan secangkir kopi yang mereka nikmati," imbuhnya.

Salah seorang penikmat kopi, Rangga Nada Bayu Sena mengaku senang dengan event yang digelar di Kota Malang ini. Melalui pembagian kopi gratis sekaligus edukasi tersebut, mahasiswa Universitas Merdeka Malang ini mengaku jadi lebih paham tentang kopi Malang.

"Kegiatan ini bagus, soalnya saya penikmat kopi. Saya baru tahu juga ada event kayak gini khususnya di Malang. Tetapi sayang, tempat penyelenggaraanya kurang luas," tutur mahasiswa asal Banyuwangi ini.

Ia pun mengaku gemar menikmati kopi Malang. Menurutnya, kopi Malang rasanya enak. "Kopi Malang rasanya mantap, setiap hari rata-rata ngopi dua sampai tiga gelas," pungkasnya.