Liaison officer (LO) dari DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang, Iwan Setiawan saat menunjukkan surat pengunduran diri dua Bacaleg PDI-P. (Foto: Adi Rosul/ JombangTIMES)

Liaison officer (LO) dari DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang, Iwan Setiawan saat menunjukkan surat pengunduran diri dua Bacaleg PDI-P. (Foto: Adi Rosul/ JombangTIMES)



Menjelang penetapan Daftar Caleg Tetap (DCT) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, dua Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Satu diantaranya adalah bacaleg perempuan, yang juga akan mengurangi kuota dari keterwakilan perempuan.

Kedua Bacaleg dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Jombang tersebut adalah Anang, Bacaleg dari Daerah Pemilihan 2 (Dapil 2) Diwek - Jogoroto - Sumobito - serta putrinya bernama Lila Fardilla, Bacaleg dari Dapil 3, Mojoagung-Wonosalam - Mojowarno - Bareng.

Anang beserta putrinya tersebut, mengaku kecewa terhadap sistem pencalonan legislatif di kepengurusan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang, yang dianggapnya telah menyalahi SK A-25 yang dikeluarkan oleh DPP PDI Perjuangan. "Saya merasa dipermainkan. Dan saya sangat kecewa sekali,” ujar Anang saat diwawancarai di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), (19/9) malam.

Kekecewaan Anang terhadap sikap DPC PDI Perjuangan yang dinilai menyalahi SK A-25 tersebut, dijelaskannya, bahwa jika mengacu SK A-25, pihaknya mendapat nomor urut satu di daftar caleg sementara (DCS). Sedangkan ia kini berada di nomor urut 4, dann anaknya berada di nomor urut 8.

“Yang mengganti saya, nomor urut dua, itu juga bukan pengurus DPC. Kalau nomor satu itu memang pengurus DPC dan posisinya guru kader, kalau nomor urut dua itu cuma ketua BSPN. Makanya saya menyayangkan hal ini, dan saya ini di partai sudah lama tapi dipermainkan,” beber pria yang menjabat sebagai Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) Sumobito itu.

Sementara, Liaison officer (LO) dari DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang, Iwan Setiawan mengatakan, bahwa pengunduran diri bacaleg harus melalui partai. "Memang yang berhak mengajukan surat pengunduran diri dari rekan-rekan bacaleg pada KPU, tapi tahapannya harus melalui partai. Insyaallah besok pagi-pagi sekali kami harus kirimkan berita acara, bahwa saudari Lilla dan saudara Anang mengundurkan diri, dari pencalegannya di PDIP," terang Iwan.

Sedangkan, disinggung mengenai adanya Bacaleg perempuan yang ikut mengundurkan diri, mempengaruhi keterwakilan perempuan di dapil 3 yang berpengaruh dengan hilangnya satu dapil.

"Kalau kuota perempuan tidak terpenuhi, kemungkinan terburuknya harus ada caleg laki-laki yang dikurangi, karena sisa tinggal dua perempuan. Atau tidak yang mundur sama sekali ya otomatis, sesuai dengan PKPU ya pencalegkan di dapil tersebut menjadi tidak terpenuhi (red : kehilangan satu dapil),” pungkas Iwan.

Terpisah, dari pihak KPU Kabupaten Jombang, Anggota Komisioner KPU Divisi Teknis, M Dja’far menjelaskan, bahwa adanya bacaleg yang mengundurkan diri, masih dibahas di internal partai. Sedangkan KPU mempunyai tahapan sendiri.

“Kita kan belum lihat kan mekanismenya masih di partai. Kami tetap, mekanisme tetap jalan, pengaruh atau tidak kita belum bisa memutuskan karena kita belum pleno untuk itu (red : penetapan DCT),”  tandasnya.(*)


End of content

No more pages to load